Saturday, 9 August 2008

Siluet

Suara gemuruh hujan menderai menembus dinding-dinding sunyi, seakan berbisik seram. Ranting pepohonan yang kelihatan dari kaca jendela, terpantul ke langit-langit kamar. Memberi gambaran fatamorgana sebuah tangan yang ingin mencengkram. Seorang gadis kecil tertidur lelap dalam balutan piama pink. Perlahan dia menggeliat, menyenggol boneka di sampingnya hingga tergolek di lantai.

Perlahan terdengar suara pintu kamar dibuka. Seorang wanita, dengan pakaian rapi namun terlihat letih perlahan menghampiri gadis kecil yang sekarang sudah berada di alam bawah sadar. Mencondongkan perlahan wajahnya ke kening gadis kecil, kemudian mengecupnya dengan sayang.

“ Mama…” gerutu gadis itu perlahan, terbangun dari tidurnya.

Wanita yang di panggil Mama tadi menghentikan langkahnya. Kembali mentap gadis kecil tersebut, kemudian menunjukkan senyum terindahnya.

“ Kok terbangun sih. Besok kan masih harus sekolah.” Ujarnya seraya menyanding anaknya, mengusap lembut keningnya.

“ Ma, Enellis pingin dibacain dongeng. Mama kan udah janji!”, keluhnya manja. Enellis menggeliat kea rah dekapan Mamanya.

“ Wah….gimana ya. Ehm…mau di donggenin apa? “

“ Enellis mau yang beda!” tuntut Ennelis.

“ Wah….. apa ya., Ehm, gini bagaimana kalo Mama kasih wejangan aja buat Enellis. Habis, Mama gak bisa dongeng sih.”, pinta Mamanya.

Enellis mengangguk, dan bersiap mendengar wejangan dari Mamanya.

“ Sayang, mungkin kalo Papamu dengar ini, dia akan marah-marah. Dia paling cemburu kalo kita lagi membicarakan jika kamu sudah dewasa kelak. Sepertinya Papamu mengidap brother complex.” Mama Enellis kemudian terkikik ringan. Enellis yang masih terlalu kecil agak binggung dengan tingkah Mamanya.

“ Ketika kita bertemu dengan orang yang tepat untuk di cintai, ketika kita ada di tempat yang tepat itu adalah kesempatan. Ketika kamu bertemu dengan orang yang menurutmu menarik itu bukan pilihan itu kesempatan. Terjebak dalam situasi tersebut dan banyak orang menjadi pasangan karena ini, itu bukan kesempatan, itu pilihan. Ketika kamu memutuskan untuk mencintai seseorang dengan segala keburukan itu bukan kesempatan, itu pilihan. Waktu kamu memutuskan untuk bersama dengan seseorang apapun yang terjadi itu pilihan. Walaupun kamu sadar masih banyak yang lebih kaya, lebih tampan, dan lebih menarik di luar sana, itu juga pilihan. Dan cinta yang bertahan lama adalah cinta yang murni pilihan. “

Enellis mendongak heran bercampur binggung ke Mamanya.

“ Enellis binggung. Yang bisa Enellis tangkap cuma kata pilihan sama kesempatan Mama.” Ujarnya polos.

“Hahahhahah…Belum sayang. Belum waktunya kamu mengerti. Mama hanya berharap kamu terus mengingat kata Mama ini.”

Enellis mengangguk polos.

“ Satu lagi. Kita tercipta di dunia ini bukan untuk mencari seorang yang sempurna sebagai seorang yang mendampingi kita kelak, tetapi untuk belajar mencintai ketidak sempurnaan orang dengan cara yang sempurna.”

“ Kesimpulannya, Mama ingin Enellis bahagia. Menemukan orang yang tepat kelak. Mama memberikan nasehat ini, agar Enellis menjadi orang yang bijak memilih pasangan. Bukan hanya melihat covernya saja, tetapi juga melihat hatinya. Seperti yang Mama katakana tadi. Hidupmu adalah pilihan sayang. Terhimpit suatu masalah yang menyesakkan dada, semua orang pasti mengalaminya. Tapi, apakah kita pernah sadar. Di dunia selalu tersedia pilihan. Tinggal manusia itu sendiri, memilih kebaikan atau keburukan, sebagai menyelesaikan masalah.”

Enellis menguap.

“ Sepertinya kamu sudah ngantuk. Teruskan tidurmu.” Ujar mama, seraya menmbaingkan Enellis di tempat tidur.

“ Apa seperti Mama dan Papa ?”, Tanya Enellis.

“ Maksudmu?”, Tanya Mamanya binggung.

“ Cinta yang sejati. Cinta yang murni pilihan. Cinta yang sempurna dengan ketidaksempurnaan.”

Mama Enellis hanya tersenyum renyah. Mengecup kening anaknya. “Selamat malam!”

Pintu di tutup keadaan kembali sunyi. Enellis kembali dalam lelap mimpinya.

*******

Kerumunan orang bergerumbul di depan rumah Enellis, gadis kecil yang baru pulang sekolah ini, menatap heran kerumunan orang yang mehujankan tatapan kasihan kepadanya, sesekali ada yang berbisik-bisik dengan yang lain memberikan ucapan prihatin. Seperti biasa di berlali kea rah ruang tamu, biasanya Mamanya akan ada id sana untuk emnyambut kedatangganya, namun suasana ruang tamu sangat suram. Isak tangis orang-orang yang mengenakan pakaian hitam memenuhi ruang tamu Enellis.

“ Bik Mina, ada apa kenapa orang-orang banyak yang nangis di rumah.” Bisik Enellis.” Non…sabar ya Non.” Ujar Mina dengan air mata yang membanjiri pipinya.

“ Kasihan ya. Msih kecil sudah ditinggal dua orangtuannya. Tidak di sangka kehidupannya yang sempurna hancur dalam satu jentika Tuhan.” Kata wanita yang mengenakan kerudung, yang berdiri tak jauh dari Enellis.

“ Iya, bagaimana ya nasip gadis kecil itu. Dia kan sudah tidak punya kerabat, Mama dan Papanya kan kawin lari.” Jawab wanita paruh baya, yang dikenal Enellis sebagai Tante Diana, teman arisan Mamanya.

“ Enellis!”, sapa seorang lelaki belasan tahun dari arah belakang.

Enellis mendongak. Menatap heran kearah pemuda tampan yang memanggilnya. “ Siapa?”, Tanya Enellis curiga.

Pemuda tampan tersebut berjalan perlahan menghampiri Enellis.” Aku Samuel Abraham Yusuf. Kamu bisa panggil aku Sam.”, ujar pemuda itu dengan menyuguhkan senyum termanisnya. “ Kak Sam, namanya kok sama kayak Papa. Papa kan Anderson Abraham Yusuf?”, tannyanya dengan polos.

“ Iya, nanti aku jelaskan. Sekarang ikut kakak ya. Kita akan ketemu dengan Kakek.”

“ Kakek? Kakek


Naska Derama ( Pilar - pilar kasih )

C : “ Terimakasih, hari ini aku sangat bahagia.”

(Rama hanya terdiam) “Alangkah enaknya masih bisa hidup. Kapan kita bisa bertemu lagi?”

R : “ (tersenyum hambar) Tidak tahu, mungkin aku tidak ada waktu , juga tidak punya tenaga lagi untuk bermain denganmu.”

( C hanya terdiam memangut wajah)

C : “ Oh ya! Ini …terima kasih ya! Bantu aku memakainya.” ( menyerahkan kalung pada Rama.)

R : ( menerima kalung dan memakaikannya ke leher C)

C : “Pelan – pelan ! Semakin buru-buru semakin lama terkancing. Kau buru-buru karena dia sedang menunggumu.”

(Rama masih sibuk mengancingkan kalung di leher C)

C : “Tapi aku merasa kalian tidak akan membuahkan hasil. Karena dia tidak benar-benar menyukaimu. Aku hanya memelototinya sebentar dia sudah menyerahkanmu padaku. Kalau aku , sampai matipun tak akan ku lepaskan. Terserah apa yang dipikirkan orang lain. Aku tak akan menyerahkanmu pada gadis lain. Bagaimana oranglain memakiku, bilang aku menyebalkan. Aku akan mempertahankanmu di sisiku.”

R : “ Sudah terpasang”

C : (memalingkan badan kembali menatap Rama) “Rama, kau milikku. Terimakasih Selamat malam!” ( masuk ke dalam rumah)

R : (Terdiam sesaat kemudian pergi)


@@@@

A : “Bagaimana, apa kau sudah Tanya Rama, tentang hubungannya dengan Diana?”

AN : “Dia bilang begitu!”

A : “Apa maksudmu dia bilang begitu, kau harus Tanya dengan jelas! Jangan Sampai membiarkan mereka punya kesempatan , itu tugasmu sebagai pacarnya , mengerti!”

(A n hanya terdiam )

A : “Kalau kau benar-benar menyukai Rama, kau harus mempertahankannya. Tahu tidak?”

(An hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu.)

AN : “Apa harus begitu?”

A : “Apa yang kau katakana?”

An : “Kalau aku pikir, kalaupun Rama benar ingin pergi, walaupun menangis dan berusaha mempertahankannya, baginya sama sekali tak bearti. Lalu kenapa harus Khawatir?”

A : (Hanya menghela nafas, dan memalingkan wajah kearah lain)

(Mendadak A terkejut mendapati sosok C sedang berbincang dengan Raka.)

An : Addin, mau ke mana? ( bertanya2x saat addin pergi tiba-tiba.)

Raka : Kau bukan mahasiswi kampus ini? Apa kau teman Rama, yang kemarin datang ke perayaan kampus?

C : Benar (menyuguhkan senyuman yang manis)

Raka : Kau dari universitas mana?

C : “ Aku dari Selatan”

Raka : Benarkah? Bukankah itu universitas yang jauh dari sini

(Dari arah berlawanan Addin terlihat marah. Dan Andini mengejarnya.)

An : Addin, addin…jangan pergi!

A : ( Dengan wajah beringas dan mau marah ) Apa maksudmu berbuat begitu? (Tanya Addin marah)

C :( Hanya tersenyum kecut)

A : Siapa yang menyuruhmu ke sini.

C : Aku hanya mencari Rama. Tidak boleh?

Raka : Iya Din, tenanglah , dia hanya tamu yang ingin berkunjung ke kampus temannya.

A : Diam kau!

( Raka Terdiam seribu bahasa )

A : Ku peringatkan , tak peduli bagaimana hubunganmu dengan Rama dahulu, tapi pacar Rama saat ini adalah Andini.

C : ( mendengarkan dengan cuek )

A : Jangan berfikir bisa memisahkan mereka. Karena itu sangat memalukan

An : Memeganggi A yang mau memukul C. “ Hentikan Din”

C : Aku hanya ingin menjenguk teman SMA , kenapa begitu tegang?

A : Kau…

An : Addin…!(Ujar Andini menenangkan Adin)

C :Aku melihatmu begitu khawatir, jangan-jangan hubungan Rama dengan dia lagi tidak baik.Kalian menganggap Kedatanganku sebagai ancaman, ap ini bearti ada harpan Rama meilihku.

A : Keparat! Tutup mulutmu! ( memharahkan tamparan kea rah C, namun di tahan oleh Raka )

An : Din, sudah jangan begitu. Tenanglah.

R : Apa kau sudah gila.

A : (meronta) “ Janganmenarikku…biar aku menampar wanita sialan ini!”

C : ( Hanya tersenyum menang.Namun, tiba-tiba terlonjak kaget melihat gelang yang di pakai Andini.)

C : Kenapa kau bisa punya ini?( meraih tangan Andini). Ini milik Rama, ini gelang pelindungnya. Ini bukan milikmu….

( Berusaha melepaskan gelang dari tangan Andini)

An : Jangan tidak boleh…!( berusaha mempertahankan diri)

C : “ Berikan padaku…kau tidak pantas memilikinya.

(Raka Langsung berlari mencari Rama)

A : Heh lepaskan Andini, kau menyakitinya.

C : Tetap berusaha melepaskan gelang dan mendorong Addin dan Arya.

Arya dan Addin terjatuh.

An : Janggan merebut Gelangku!( Bentak Andini, dan tidak sengaja mendorong C sampai jatuh)

C : (Terdorong jatuh ke lantai )“ Aduh”

An : Terkejut dengan apa yang di perbuat “ Maaf”

Bertepatan saat itu Rama datang bersama Raka

R: Cin, apa kau terluka ( Berlari khawatire kearah C)

C: ( Merengek manja) Sakit sekali. Mereka mengganguku! Aku hanya ingin menjengukmu….( merengek)

R: Membantu berdiri “ Ayo”

An: Maaf, Aku tidak sengaja .( tulus)

C: Jelas-jelas kau sengaja. Kau jelas ingin menyakitiku. Kau memang tidak menyukaiku…Kau pura-pura lembut di depan Rama. Aku membencimu. Aku membenci orang sepertimu!( Berteriak histeris)

Plak( Rama menampar C)

R: Sudah cukup belum

Raka bawa addin ke ruang kesehatan

R: Baik

A dan An ikut keget

R: Minta maaf pada Andini

C terdiam lesu

C: Maaf ( Air matanya mulai menetes)

An merasa tidak enak kepada C

R: Pergilah, jangan pernah datang ke sini lagi. Aku tidak mau melihatmu lagi. Masa lalu sudah berlalu. Demi kebaikan kita, lupakanlah. Anggap ini pertemuan terakhir kita.

C mulai meneteskan air mata

R: Ayo ( menggandeng tangan Andini menjauh)

An: Rama ( Menghentikan langkah kaki Rama)

R: Jangan hiraukan dia

C terdiam beberapa saat. Matanya menerawang..

Tiga langkah rama dan andini berjalan , rama terhenti, dan berbalik kea rah C.

R: Cepat Pulang

C masih menangis, dan membalikkan badan, melangkah dengan goyah.

$$$$

A: Aku rasa wanita itu pasti gila.

Raka: Mungkin, dia wanita yang berbahaya mana mungkin Rama suka padanya.

A : Aku rasa otak Rama sudah tidak waras, kenapa sampai pacaran dengan wanita seperti dia.

Raka hanya menghela nafas

An: Tapi dia sangat manis, aku iri padanya.

A DAN Raka: Andini???

An: Menempatkan diri di dekat A” Walaupun sifatnya di kategorikan kelainan, tapi ini juga merupakan keberanian bukan?”

A: Dia itu idiot. Masih salut padanya.

An: Aku tahu mungkin Rama bisa direbut olehnya. Tapi, bagi Cindy, justru sebaliknya, aku yang merebut Rama dari dia.

A: Jadi maksudmu yang menjadi pihak ketiga antara mereka adalah kau! Apa kau sinting?”

An: Aku bukan sinting. C mencintai Rama , itu bukan salahnya, Rama wakytu itu menyukainya dengan sepenuh hatri, begitu pula Cindy.

Raka: Apa yang kau bicarakan? Rama orang yang setia, walaupun terkadang mata keranjang. Aku tahu betul saat ini yang ada di hatinya adalah kau, tak ada wanita lain. Jadi kau jangan pesimis

An: Aku bukan pesimis, aku hanya…

R: Apa yang sedang kalian bicarakan? ( Rama tiba-tiba muncul)

An: Kau…apa sudah kau selesaikan masalahmu dengan kekasih lamamu itu.

Rama: Hanya diam. “ Apa kalian bisa tinggalkan kami berdua”

A: Heh…”

Raka: Baiklah.

Suasana mulai hening

R: Menghampiri Andini, dan duduk di hadapannya. “ Maafkan aku….Aku mohon jangan membenciku ya? Walau aku tidak perhatian, ceroboh, dan tidak bisa menolak wanita, tapi aku harap bisa di sisimu ya.

An: Tersenyum dan mengangguk.

R: Ikut tersenyum. “ Bodoh”


Just A moMeNt

Untitle


Tanpa sedu sedan

Tanpa hingar bingar

Tanpa kesepian

Tak kan ada yang namanya kebahagiaan

Tak kan ada pula yang namanya kasih sayang dan sebuah kedamaian

Sama seperti tanpa mimpi dan angan tak ka nada kenyataan maupun kehidupan….

Saat gelap datang hanya terang yangakan muncul kelak…

Setelah hujan melanda pelangi akan bersinar terang

Setelah awan mendung menyelimuti niscaya mentari akan menyinar kembali

Semua bergandengan

Tak kuat pula cinta tanpa cemburu

Sebagaimana rasa setia dan sebuah kebencian….

Semua di ciptakan berpasangan

Tak ada yang sendiri

Begitu pula dengan diriku yang aku yakin di takdirkan untuk dirimu…..


Selembar kertas puisi yang tak sengaja di temukan oleh Dita . Sekelebatan terlihat wajahnya merona merah. Namun rona itu segera sirna saat ada seseorang yang datang memukulnya dari belakang.

“ Auch..” , jeritnya.” Sial lo….” Lanjutnya, kemudian membalas dengan tinju lemah kearah lengan orang yang memukulnya.

“ Lagi ngapain sih Dit, senyam – senyum kayak orang gak waras aja…!” Ejek Sam.

“ Kamu itu gak bisa ya Sam, liat aku senang barang sedetik.Selalu saja kamu itu menghancurkan semua kebahagiaan ku.”, keluh Dita sambil menyuguhkan ekspresi sebal.

Sam mengelus kepala Dita dengan sayang,

“ Kalau gak ada aku kamu pasti kesepian…” Ujarnya lembut, Dita membalas tatapan Sam dengan mantap dan yakin.

” Jangan GR ya Sam, harusnya Aku yang bilang kayak gitu, kan yang habis ini mati aku.” ujar Dita, walau dengan seulas senyum di pipinya namun Sam dapat membaca kegetiran dalam hati Dita.

” Kamu kudu janji ya Sam, kalau ntar aku sudah gak ada kamu harus hidup bahagia….Harus!” ujar Dita, air mata mulai mengucur dari mata indahnya. Sam hanya bisa menatap gadis mungil yang ada di hadapannya itu dengan haru bercampur kasih.

“ Dit, lo jangan ngomong gitu dong. Gue gak sanggup ngebayangin dimana perasaan gue saat hari itu tiba. Gue…gue pasti…” gantung Sam.

” Sutttt lo gak boleh kayak gitu. Ikhlasin gue, dan mulai saat ini lo harus bisa menata perasaan lo….semua orang kelak harus berpisah Sam, gak terkecuali kita. Kita hanya makhluk ALLAH yang lemah dan hanya bisa berusaha dan tawakal. Kalau toh semuanya sudah di lakukan tetapi nyatanya sang pencipta pingin kita kembali kepadanya, ya itu gak bisa di elakkan. Kan kita Cuma manusia bisa, yang lemah dan gak berdaya tanpanya.” Kata Dia,

“ Dit , kamu harus janji juga sama Aku.” kata Sam, wajahnya terlihat serius.

“ Apa?” balas Dita. Tatapan Sam mebuat Dita merasakan rona-rona yang sulit di artikan yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh.

“Kamu habis ini mandi ya…bau lo kecut neh gak tahan gue.” Kata Sam, tawanya meledak. Dita seketika berubah ekspresi marah.

“ Sam jahat…” ujarnya sembari memukul sayang sahabatnya itu.


Sam Aku , Dita Mahardika , menyatakan kalauau hatiku ini sudah terpaut erat kepadamu. Tak kan pernah aku lupa setiap kedip kenangan yang aku ukir bersamamu. Dalam hatiku sudah teruki namamu Sam. Aku tak peduli bagaimana perasaanmu kepadaku. Aku tak mengharap balasmu…karena ku tahu keberadaanku di dunia ini tak lama lagi. Aku yakin ini semua karena ALLAH sangat menyayangiku, memberikan Mama,Papa, kamu , Om, dan Tante untuk menemani perjalanan singkat hidupku. Aku juga sangat bersyukur kalau di umurku yang singkat ini aku bisa merasakan apa yang namanya CINTA…..dan aku lebih bersyukur lagi karena rasa itu tertambat untukmu…sahabatku yang selalu ada untukku setelah Tuhan dan Keluargaku.


“ Dita…dita…Dita….”. Teriak Saskia mencari anak semata wayangnya. Kesehatan putrinya tergolong lemah, dia menjadi was-was kalau Dita tidak terjangkau dalam jarak pandangnya.

“ Ada apa Ma, kok teriak-teriak?”, kata Bagas melihat istrinya panic setengah mati.

“ Dita Pa, gak ada!” Katanya semakin panic saja. Peluhnya menetes ke pelipis, wanita itu terlihat begitu kelelahan.

“ Tenang Ma, tenang, di cari dulu.”

“ Tenang bagaimana. Papa ini tidak bisa mengerti perasaan Mama. Aku ini Ibunya Pa,jadi Mama punya firasat lebih ketimbang Papa. Dita sudah Mama cari sama Mbok Tum dan Pak Dharwis ke semua penjuru rumah tetapi Dita gak ada Pa. Gak ada..! Gimana Mama bisa tenang…Dita itu kan lagi sakit Pa…gimana kalau terjadi sesuatu sama dia.Huhhuhuhu….” Tangis Saskia mulai meledak. Air matanya mengucur deras.

“ Maaf Ma, Papa gak bermaksud tidak peduli, bagaimana pun Dita kan anakku juga. “

“ Maaf kan Mama , Pa….hhuhuhuhuhu…”

“ Iya … sudah tanya sama Sam ,Ma?”

“ Iya Pa, bagaimana aku bisa sebodoh ini . “

“ Assalamualaikum” Suara Dita dari arah pintu depan mengejutkan Saskia, hatinya tiba-tiba saja terasa longgar melihat ankanya sedang tersenyum ke arahnya.

“ Maaf Om, tadi Dita minta di ajak jalan ke taman jadi saya ajak dia keluar. Dan tadi tidak ada orang di rumah jadi saya tinggalkan memo di kulkas.” Jelas Sam.

“ Makasih Sam.”

Senyum Saskia merekah, dia memeluk Dita dengan sayang” Lain kali nunggu orang rumah ada ya Sam, baru keluar. Biar tante gak kepikiran.” Ujar Saskia seraya mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.

“ Iya Tante, maaf tadi Sam gak pamit dulu. Habisnya Ditanya minta kayak orang ngidam , takutnya kalau gak di turutin saya di gorok lagi…” canda Sam, mencairkan suasana.

“ Eh, apa kamu bilang. Resek ya…” , kata Dita, tanganya mengepal kearah Sam, mengisyaratkan kalau dia akan menghajar Sam. Sam hanya pura-pura berwajah takut. Saskia dan Bagas ikut hanyut dalam candaan kedua insan muda itu.

“ Ma, maafkan Dita ya….buat Mama nangis terus, kalau masih di beri umur Dita janji gak akan membuat Mama nangis kayak gini lagi. “ ujar Ditta, wajah mungilnya terlihat lelah.

“ Iya ….” Jawab Saskia dengan suara getir.

Dita tersenym kearah Sam, yang dari tadi memperhatikannya, Sam membalas dengan senyum pula.

Malam terasa dingin, jalanan rumah Dita malam ini tak seperti biasanya, petang dan gelap. Kalau di ibaratkan dalam film misteri atau semacamnya suasana ini mendukung banget. Dita sedang asyik membaca buku Chicken Soup keluaran terbaru. Tiba-tiba saja Hp-nya bergetar . Sebuah SMS ternyata.


Mlm Ditta jelek….

Gy ngap neh ?

Dah bobo ta ?

Ato Gy ngelamunin aku?

Wah gak kaget deh aku kan mang ganteng…

He3X

Sender :

SamU3L_ MySun


“ Dasar Narsis…” Gerutu Dita, senyum simpul melukis wajah imutnya. Dita langsung memilih option replay.


Ye….

Kurang kerjaan apa …

Ngelamunin Seorang Samuel Pratama

G penting

Emang lo…..

Co kurang kerjaan …

Mlm2x SMS g penting..

Tapi aku suka kok…

Heheheheh….

Gy baca neh

Coba tebak aku baca apa?

Lo pasti nyesel deh kalo g cepetan ke rumah gue

^_^

Sent to : Sam3l_ My Sun

Tak lama kemudian ada pesan delivered to: Samu3l_ MySun

Selang 2 menit kemudian Sam membalas


Heh…

Apaan ceh…

Jgn bikin Sam Penasaran dong ….

Buku apa ya??

Nyerah deh

Kasih tau dunk Dit…..

Tapi gue karang gy di PTC gak bisa ke rumah u

Ada acara bareng temen

CrY ya….

Ayo Ngaku kesepian Ya????

He3x

Membaca balasan dari Sam, Dita jadi agak gondok. Akhir-akhir ini Dita merasa di no 2 kan. Dia jadi sebal.

“ Huh…” keluh Dita. Dalam hatinya sedang ada perang pendapat antara dua belah pihak.


Wek…

Sam Jelek

Pokoknya kalau kamu gak datang ke rom Q

Kamu bukan temenku lagi

Wek

:<

Balas Dita jengkel. Setelah ada berita terkirim Dita jadi menyesal mengirimkan SMS kayak gitu ke Sam.Memang apa hak dia melarang Sam. Toh selama ini Sam selalu ada untuknya sudah cukup, tapi kali ini Sam tidak mau menuruti dia. Pasti dia sedang berduaan dengan wanita lain. Loh…loh….Kok jadi bego gini sih. Perasaan Dita tidak karuan. Dita sadar akan suatu hal kalau Sam punya kehidupan sendiri yang bebas dan Dita tak berhak mencampuri dan mengaturnya.


Sam maaf ya ….

Dita tadi emosi…..

Maf Ya Sam….

Iya Dita kesepian…

Dita kangen ma Sam

Dita pingin di godain Sam

Pingin di certain Sam tentang dunia luar

Gimana itu PTC

Tempat Sam duduk sekarang

Dll

Dita Iri Ama Sam…

Karena Sam bisa enak ke mana aja

Bebas dan lepas

Dita pengen….

Banget

Jadi tadi pas Sam bilang G bisa ke rumah Dita

Dita jadi emosi

Maf ya Sam


Delivered to: Samu3l_MySun

Dita kembali merenung. Kenapa dia jadi tidak rela kalau memikirkan Sam menggandeng tangan gadis lain. Selama ini Sam selalu ada untuk Dita, pada akhirnya Dita tidak sadar kalau Sam suatu saat nanti juga akan merasakan jatuh cinta. Dan saat waktu itu tiba pasti Dita akan sangat kesepian . Dita merasa telah mengekang kebebasan Sam untuk berkawan dan mencintai. Sejak SMP Sam memang tergolong lelaki popular, tetapi karena sering bersama Dita semua cewek yang mengaguminya mengira kalau Sam sudah punya kekasih. Dan selama semua ini masih berlanjut Sam akan terus terkukung dalam selubung Dita.Dan dita tidak menginginkan semua itu. Memang Dita mencintai Sam, tapi belum tentu Sam juga begitu adanya. Dita bertekad untuk mandiri mulai detik itu. Agar Sam dan semua orang yang menyayanginya tidak lagi terbebani akan dia.

“ Huh…” Dita menghela nafas. Tubuh dan fikiranya sudah sangat capek. Di lihatnya layar Hp-nya, tidak ada tanda-tanda orang SMS. Sudah 20 menit tetapi belum ada balasan dari Sam, tak biasa dia lama membalas SMS dari Dita.

“ Hai nona Manis….?” Sapa Sam dari arah belakang.

“ Sam…” Pekik Dita seraya menghambur kearah Sam.” Aku kira kamu marah….”

“ Hahhahahah…mana mungkin aku marah sama bayi kayak kamu. Gak tega tahu. “

“ Kamu keterlaluan…masak datang ke sini gak bilang-bilang…huhuhuhuhuhu”Air mata mulai melinangi mata Dita, bukan air mata kesedihan tetapi air mata bahagia. Ternyata selama ini yang di pikirkan Dita salah besar. Sam tetap saja menomor satukan dia di hatinya. Tanpa ada embel-embel yang lainnya. Ya Tuhan sungguh kau menyayangi diriku.

“ Cup…cup…cup, kenapa sech kamu gak mau bilang kalau kamu kesepian dan kangen ma aku lebih awal. Aku gak perlu menolak tawaranmu kan.” Ujar Sam sambil mengelus kepala Dita. Semakin erat saja Dita memeluk Sam.

“ Sam…aku iri sama kamu. Kamu bisa keluar bareng temen-temen kamu, bisa menikmati dunia yang di ciptakan Tuhan, bisa melakukan segala yang ingin ku lakukan tetapi aku tak bisa….”

“ Hem…” Sam hanya mendehem ringan.

“ Kamu bisa menikmati apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Sedangkan aku selama ini hanya buku , kamu, mama, dan papa …yang bisa aku ajak bicara….aku iri padamu yang bisa bebas bergerak, sedangkan aku terkurung di sini dalam sepi” ,air mata Dita mengalir semakin deras.

“Dit, maaf kalau selama ini keberadaanku membuatmu menderita…”

Dita menggeleng tegas “Aku yang harusnya minta maaf. Selama ini aku selalu saja bersikap egois.Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu.Aku bukan seorang kawan yang baik”

“ Trus….”, ujar sam lirih, dia terus menatap sabar mata Dita.Berusaha mencari semua maksud tersembunyi di balik mata jernihnya.

“Aku….aku ingin…”, Dita menggantung ucapannya. Matanya bimbang, sesekali dia menghindari tatapan Sam yang penuh dengan Tanya, dengan mengalihkan pandangannya ke arah kolam ikan.” HuH…”, Dita menghela nafas panjang”Sebenarnya Aku mau…”

Bersamaan dengan Dita HP sam bergetar riang mendendangkan sebuah lagu dari Juliet.

“Sebentar…” , Sam kemudian mengambil jarak beberapa meter dari Dita untuk menjawab telepon.

Dita terus berpikir dalam lamunnya. Selama ini dia sangat mencintai Sam dan ingin sekali bersanding dengan Sam selama detik-detik waktu yang mungkin bagi Dita tak lama lagi.

Lima menit berikutnya Sam menutup telepon.

“Siapa?”,Tanya Dita yang sebenarn ya masih bimbang untuk mengungkapkan isi hatinya.

“ Teman….”, jawab Sam singkat” Oh , ya tadi sampai mana? Oh ya…kamu mau apa sih Dit?’’ lanjut Sam

“ Tidak jadi….kamu ada perlu dengan teman mu?Kok kayaknya tadi serius banget?”

“Tidak…cuman masalah kecil. Kamu gak perlu cemas.” Kata Sam sembari melingkarkan tangannya ke bahu Dita sentak jantung Dita berdebar kencang.Bukan karena penyakit ataupun film horor tetapi karena tangan gagah itu.

“Eh dah malem kamu pulang aja ya ntar tante nyariin lagi.”

“Ngusir neh ceritanya. Tadi katanya mau ngomong, kok gak jadi. Ntar nyesel lagi!”

“ Gak ah, siapa juga yang nyesel kamu tinggal.”

“ Bener ta? Yakin?”

“ Ih…apaan sih Sam…”

“ Wah Dita dah kayak kepiting rebus nih, wajahnya merah bangget.”




Gadis Penyamar

Bulan penuh sedang muncul dari persembunyiannya, menyapaku dengan bias sinarnya yang datang dari bintang. Sinarnya yang temaram itu merayuku dengan alunan nada yang datang dari suara kunang-kunang, begitu menghanyutkan, sampai aku rasanya ingin tenggelam dalam lamunan.

Sayup-sayup ku dengar suara seorang lelaki memangil namaku. Membiusku dalam lelap. Aku pun mulai tertidur lunglai di kursi santai depan kamarku.

“DIN…Din…Din”, rintihnya, sebuah suara yang sangat aku kenal, namun aku lupa suara siapa itu. Semakin jelas suaranya ku dengar dalam tidurku. “DIN…TOLONG”, tiba-tiba dia menjerit, aku mulai ketakutan, dan…

“Hosh…hosh…hosh…”, peluh hangat membasahi bajuku.” Cuma mimpi…”, gumamku. Aku bersiap masuk ke dalam kamar, mataku sudah tak kuat menahan kantuk. Dalam diriku masih mencari jawaban ,suara siapakah gerangan yang selalu datang menghampiriku. Mimpi ini sudah berulang sejak dua tahun lalu, dia selalu muncul, dia yang selalu ada, dia yang selalu ku kenang, namun aku lupa siapa gerangan.

Srek…srek…srek…aku menghentikan langkahku saaat mendengar langkah kaki yang di seret dari arah taman. Dengan hati bimbang aku memutar arah kakiku kearah taman, memandangnya dengan ragu,” SREK…SREK…”, Semakin jelas terekam dalam telingaku. BRUAK…Suara jatuh dari lantai dua membuatku membuncit. Segera kutarik korden, dan kututup rapat pintu kamarku yang sudari tadi menyusupkan hawa dingin ke kamarku.

“ SIAL ! Pasti Jordan lagi. Kali ini apa yang dia hancurkan. DASAR KUCING SIALAN!!”, gerutu Pamanku di lantai atas. Jordan adalah kucing Mamaku. Aku juga kurang tahu, kenapa Mama sangat menyayanginya. Kucing pengacau macam dia, pantasnya di panggang hidup-hidup. Sikapnya yang tak bersahabat terhadap anak majikannya, sangatlah keterlaluan. Kalau tidak mengingat dia kucing Almarhum Mama, pasti sudah kutaruh di penangkaran kucing.

Kembali rasa kantuk menyerangku, aku memutuskan untuk naik ranjang dan menenggelamkan diri dalam selimut hangat. Udara malam ini terlalu dingin, menurut ramalan cuaca daerah Surabaya selama tiga hari ke depan akan di landa hujan deras.

Satu…Dua…Tiga…mataku kembali terpejam, suara paman yang masih mencicit lantang di lantai dua semakin menyamar. Selamat malam.



Matahari pagi menyingsing, melewati celah jendela yang luput dari perlindungan gorden. Merasuk tepat mataku, membuatku terbangun. Rasanya aku masih sangat kantuk, mataku masih terpejam saat aku menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari pertamaku di SMU Fiesta, aku di terima menjadi murid baru atas koneksi Paman. Mulanya aku tidak setuju, tapi karena Paman memaksa, akhirnya aku menurut juga.

Aku masuk ke ruang makan. Di sana Paman dan BIbi , serta ketiga anaknya sudah duduk di kursi masing-masing, agaknya mereka menungguku. Prisil, anak Paman Sam yang ke dua, malah menatapku dengan pandangan mencemooh.

“ Apa kau tau sekarang jam berapa, “RATU” ?”, sindirnya, dengan nada yang kurang aku suka.

“ Sorry!”, jawabku cuek,seraya menempatkan diriku di kursi kosong, tepat di samping Samuel, anak pertama paman Sam.

” Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?”, tanyanya ramah. Aku hanya menyunggingkan senyum termanis yang dapat ku lukis dikala aku masih lelah. Dia membalas senyum. Samuel sangat ramah, sejak kedatanganku kemarin, dialah yang selalu membantuku. Aku masih sangat asing dengan Surabaya. Aku tak tahu seperti apa orang-orang di rumah ini. Pricil yang dari kemarin melirikku dengan mata melotot seperti ikan koi, Samuel yang ramah, Karnia adik Pricil yang pendiam. Paman dan Bibi yang tanpa ekspresi menghadapiku. Oh ya ada satu lagi penghuni rumah ini, dia kakak angkatku, namanya Dion. Mama mengadopsinya setelah bercerai dari Papa. Hal ini di lakukan Mama karena hak asuhnya atas diriku dimenangkan oleh Papa.

Dion belum kelihatan di meja makan. Sejak awal bertemu sikap Dion sangat dingin terhadapku. Tatatapan yang dilayangkan kepadaku selalu saja tatapan mencemooh dan menghina. Entah kenapa semua orang di rumah ini menganggap aku kutu busuk, bahkan si Jordan.

Sejak perceraian Ayah dan Ibuku 10 tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih berumur 6 tahun, hak asuh atas diriku diperoleh ayah. Dan sejak saat itu aku tinggal bersama dengannya di Jakarta. Aku tumbuh di sana, Ibu kembali ke Surabaya, kabar terakhir yang aku dengar dia sudah meninggal 5 tahun , sebabnya aku kurang jelas, kata ayak ibu mengidap kangker darah stadium lanjut. Sampai tiga bulan lalu, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan di daerah Kemang,Jakarta , saat pulang kantor. Ayah tidak punya kerabat dekat, pada akhirnya, kerabat dari ibukulah yang mendapat hak asuhku, sampai aku dewasa, dan bisa tinggal sendiri aku akan tinggal bersama mereka.

Prisil mengacuhkanku dalam mobil. Prisil dan aku seumuran. Dia cantik, sangat cantik malah. Rambutnya di gerai lurus, Dengan pewarna blueblack, yang sangat kontras dengan kulit mulusnya. Perawakannya tidak terlalu tinggi namun porposional dengan bentuk tubuhnya yang terawat. Matanya tegas, tapi mengesankan keangkuhan. Kata Samuel, Prisil adalalah bintang idola di sekolahnya. Tapi, kata Samuel dia kurang pandai dalam bidang study. Tuhan memang adil. Prisil di anugerahi kecantikan yang luar biasa, tapi otaknya pas-pasan.

“ Eh, ntar kalo udah masuk gerbang sekolah, anggap kita gak kenal!”, ujarnya sinis. Aku hanya memandangnya dengan sinis pula. Di sampingnya Dion duduk mengemudikan mobil. Belakangan ku ketahui, Dion memang selalu absent di meja makan. Dia lebih senang sendiri di kamar. Aku heran ada orang seperti dia. Dion sangat tampan, wajahnya mirip dengan artis latin, namun khas asianya masih terasa. Dia sulit sekali diterka. Walaupun hanya anak angkat tetapi, agaknya orang-orang di rumah sangat segan terhadap dia ketimbang aku yang keluarga sedarah mereka.

“ Dion, Sebelum masuk aku pingin ngomong sama kamu. Jadi jangan beranjak ke kelas dulu!”, kata Prisil kemudian, tentu sudah bisa di tebak bagaimana nada bicaranya. Sok manja bannget. Membuatku mual saja, melihat wajahnya yang cuek, nyaris tanpa ekspresi. Aku sebenarnya heran. Apa di itu manusia normal, jangan-jangan dia zombie. Sebodo amat, tujuanku kan mau sekolah. Di pikir-pikir Dion dan Prisil serasi, yang satu jutek yang satu cuek. Klop banget.

Dion memarkirkan mobil di pelantaran parker sebelah timur. Sepertinya ini tempat parker khusus. Aku hanya mendapati 13 mobil yang rata-rata BMW. Tak seprti tempat parker dekat gerbang yang kami lewati tadi, di sini ada banyak sekali pepohonan rindang dengan aksen ukiran tembok bergaya barat.

“ Sampai kapan mau bengong!”, bentak Pricil melihat aku terhenti mengamati dinding permanent. Aku menoleh ke arahnya, dan mengikuti langkahnya, Dion sudah menunggu kami di depan tangga, berbincang dengan 3 orang lelaki . Mereka kelihatan akrab, wajah dinginya yang sudah seminggu ini jadi santapanku tiba-tiba melumer di depan ketiga cowok yang sekarang sedang main tending-tendangan dengannya. Melihat kedatanganku dengan Pricil mereka berhenti tertawa. Salah seorang dari 3 teman Dion, menatap penuh rasa ingin tahu kea rah Dion, namun dion hanya menaikkan sebelah alisnya.

“ Hai Crish, Ken, dan Hai Ray…gimana liburan lo ke Singapur. Oke gak?, “ ujar Pricil sok akrab, kini tangannya sudah menggelayut manja ke lengan Dion.

“ Biasa aja”, ujar cook yang bernama Ray. Dia sangat tampan. Rambutnya yang gondrong dan ditata berantakan membuat dia semakin terlihat cool. Sama halnya dengan Dion, namun, wajah Ray lebih cenderung ke wajah Asia. Matanya yang tajam menusuk persendianku, saat dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“ Sapa dia?”, Tanya Ray kemudian. Pricil kelihatan gondok karena Ray lebih tertarik untuk tahu siapa aku ketimbang topic pembicaraan tentang Singapura.

“ Sepupu gue..!”, jawab Pricil dengan melempar pandangan menghujam ke arahku. Dion tak bereaksi, hanya menatapku sinis.

Aku benar-benar gerah dengan tatapan 5 orang ini.

“ Adik gue, kenalin namanya Addin, pindahan dari Jakarta!”, jawab Dion, yang sontak membuat cowok yang di panggil Chris dan Ken tadi, terbengong-bengong menatap Dion. Dion malah tertawa garing. “ Gak usah segitunya lagi !”.

“ Gila lo! Sejak kapan lo punya adik? Cewek lagi?”. Celetuk Ken, pria jangkung yang memiliki wajah baby face. Aku yakin jika sahabatku Katerin, di Jakarta bertemu dia, pasti dia akan ngefans panget ma si Ken. Dia kan baby face holic.

“ Udah deh, gak penting banget ngomongin dia. Ntar kan bisa! Sekarang mending kita ke kelas deh!”, celetuk Pricil, yang mulai tidak suka perhatian ke-4 pangeran tertuju kepadaku.

Saat aku berusaha berjalan melangkah melewati Ray , sesuatu menganjal kakiku. Tubuhku oleng dan. Bruk….tubuhku menindih tubuh Ray yang ikut terjungkal.

Ray membantuku berdiri. Dion menatapku tanpa arti, Pricil dengan luapan emosi memaki aku sejadi-jadinya, sementara Ken dan Chris memandu koor, “ Ciyee….”, sangat kompak.

“ Dasar gatel! Tahu aja sasaran empuk!”, ujar Pricil. Tangannya sudah lepas dari lengan Dion.

Ray mengibas-ngibaskan debu yang menempel di bajunya. Aku tak berani menatapnya, takut kalau dia marah. “ Anu…maafin gue . Gue gak bermaksud untuk ngajak lo ikut jatuh!”, mendengar jawaban gue yang super konyol semua yang ada di situ tertawa, termasuk Ray.


Deadline Cinta

Oh mungkin, hari ini begitu sial buat gue. Bayangin aja gue kalah taruhan dan gue harus menyamar menjadi seorang pembantu yang skull di sekolah elit. Secara gitu gue udah kuliah semester 4 , jurusan hukum , yah walau umur gue seumuran murid SMU tingkat pertama. Sial banget gue. Mungkin hari ini memang hari paling sial di dunia buat gue. Alexandra Ferdian Perth , yap tuh nama gue. Cewek super cerdas yang masuk akselerasi di tiap kehidupan tingkat pendidikannya. Sampai-sampai gak punya kenangan indah yang berkesan , karena terlalu sibuk buat belajar.

“ Begoooo..!!!!” , teriak gue gak karuan , mengguncang seluruh isi kantin. Serentak beribu kepala itu menoleh kearah gue,-hiperbola dikit boleh kan-.

“ Suttt!”, perintah Addin , yang sedari tadi mungkin sudah panas kupingnya mendengarkan ceritaku tentang taruhanku dengan Siva. Selain gue, Addin juga salah satu temen gue yang ikut program akselerasi, and once again, cowok paling nyebelin di dunia yang sekarang ini jadi topic hangat gue ma Addin, juga temen SMA gue yang ikutan program yang sama. Intinya kita bertiga adalah murid pilihan, sebenarnya ada satu lagi, namanya Anita. Tapi gue males mbahasnya.

Balik lagi ke topic Siva. Namanya saja Siva, pantas tuh namanya sama orangnya, tuh orang mang ‘troubel maker’. Suka bikin gaduh di semua acara, gak pas di kelas, di kantin, di mall, dan laennya deh . Secara gitu, nama kan doa orangtua buat anaknya, neh contoh Siva, tuh dalam Hindu di percaya sebagai dewa perusak, gimana gak?Beneran kesampaian tuh doa orangtuannya, anaknya jadi perusak alias penyebap masalah. Huh…sebel gue, dia ngerusak impian gue, buat menjalani kehidupan kuliah tanpa masalah dan menyelesaikannnya cuman 3 tahun. Kalau terus satu kelas ma tuh anak bisa – bisa gue ngendok sampai 12 semester. Huh its horrable! ,sialnya lagi gue kalah taruhan lagi sama dia, dan mesti ngejalanin hukuman gila.

+_+




Pagi ini Siva masuk gerbang sekolah kayak orang gila, cengar – cengir gak karuan . Gue tahu dia sebenarnya seneng banget karena hari ini adalah hari hukuman buat yang kalah taruhan. Setelah ngurusin cuti dan tetek bengek yang lain, gue kembali ke kelas buat ngikutin kuliah terkhir gue sebelum gue pindah ke SMU Ferdias , salah satu sekolah swasta elit di Bandung. Sumpah deh gue malas abis, masak gue harus ngumpul ma anak SMU lagi, huh…males, secara gitu gue anak kuliahan, masak harus ngumpul ma brondong, pasti deh yang di omongin topiknya tentang pacaran melulu.Padahal gue and temen-temen gue selama ini paling alergi dengan that’s word.

“ Hai ! lo kayaknya sudah siap banget neh. Bagus…bagus, itu baru namanya sportif….!”, Sapa Siva, saat aku melewati tempat nongkrongnya dengan ganknya yang gak jelas. Melihat gue agak runyam, senyum mengejek segera terkembang lebar di bibir seksinya, tunggu seksi, lebih tepatnya , buruk. Huh….mengapa hidup gue sial banget, salah apa gue sehingga bertemu makhluk macem Siva. Dan gue berharap di dunia ini cuman ada satu Siva aja. Coba bayangin kalo ada lebih dari satu, wah…jadi apa neh dunia.

“ Huh….jangan masang muka masam gitu dong. Tambah jelek lo,” ujarnya masih dengan wajah yang super nyebelin, kali ini matanya ikut menjamah diriku dengan pandangan mengejek. Sebisa mungkin aku menahan amarah. Dengan menantang tatapannya , gue melumat abis dia dalam angan gue, catet cuman dalam angan doang. Gak mungkin lah gue melumat tuh orang. Pegang aja najis, apalagi melumat , bisa kena penyakit muntah berak tujuh turunan gue.

“ Maaf permisi gue mau lewat. Ini jalan umum kan?”, ujarku setelah berusaha berfikir keras agar tetap terlihat deep and calm di depan teman yang laen.

“ Oho…yap tentu ini jalan umum. Mau lewat? Ya lewat aja. Kok repot !”,

“ Gimana gue bisa lewat ,kalau ‘BERUK’ kayak lo menghalangi jalan gue.” Tegasku. Mata gue sudah mulai melotot. Yah untung gak ada kaca, kalau ada gue pasti udah pingsan ngelihat urat kepala gue yang udah berebut keluar.

“BERUK?! BERUK KATA LO?” , Teriak Siva mulai naik pitam, agaknya sekarang yang gak bisa menahan amarah bukan cuman gue saja. Ok gue sudah mulai senang dan merasa menang, yah sedikit sich . Setidaknya ku bisa mengumpati dia di depan umum sebelum gue menjalankan misi penyamaran.

“Iya lo ‘BERUK’ yang super jelek …super nyebelin…gak punya otak …sadis…”

“Heh lo kalo ngomong di jaga ya …” Redamnya seraya mengangkat tangan kanannya, siap dengan posisi ingin menampar.

“Apa lo mau nampar gue…mau bunuh gue, asal lo tahu gue gak takut…dasar pengecut…” Hina gue dengan nada suara yang mulai sumbang. Kilatan amarah jelas terpancar di mata Siva, dan juju saja itu sedikit buat bulu kuduk gue berdiri.

“Apa lo bilang lo udah ngatain gue Beruk…sekarang pengecut lagi…untung lo cewek kalo gak bener gue ajar lo…”

“Ye sapa suruh ngerjain cewe.WEK!”, kata gue , sambil menjulurkan lidah sepanjang yang gue bisa. Oke..selamat tinggal depp and calm, terserah toh setelah enam bulan berlalu semua pasti dah lupa gue pernah ngumpatin orang. Dah…kampus. Dah Siva, setidaknya satu kesenangan gue adalah gak bertemu lo.

@_@


Jam wekkerku berdering ringan . Aku segera meraupnya dan membuangnya kearah tumpukan majalah, ada bunyi seperti kaca pecah , mungkin bagian bodynya pecah sedikit.

Mataku yang masih ngantuk tertuju kearah calendar yang sudah aku bulatin dengan spidol merah pada salah satu tanggalnya. Ya tanggal 1 Februari 2008 , tepat ulang tahunku yang ke-18 aku harus menjalankan hukuman karena kalah taruhan dengan si Siva, brengsek itu. Tak seperti kebanyakan orang yang senang menyambut datangnya hari ulangtahun, aku sungguh bosan dan sebal, pasalnya gak jauh-jauh dari penyamaran selama satu semester. Yah di hari ulangtahunku ini aku berharap agar misiku berhasil.

Aku mencomot sebuah kertas yang sudah lecek. Masih teringat di memori kepalaku saat aku menandatangani perjanjian itu.

SURAT PERJANJIAN


Yang bertabdatangan dibawah ini :

1. Siva Pradata Utama (pihak 1)

2. Alexandra Ferdian Pert (pihak 2)

Menyatakan barang siapa diantara kedua belah pihak yang akhirnya kalah dalam taruhan, maka akan di kenai hukuman berupa :

  1. Harus menjalankan misi penyamaran di sebuah SMU elit* selama kurun waktu 1 semester, tanpa di ketahui oleh pihak yang tidak bersangkutan.

  2. Profesi dari si penyamar haruslah seorang pembantu yang medok jawa banget.

  3. Di larang pacaran atau pun jatuh hati selama menjalani masa hukuman.

  4. Prihal ini adalah rahasia bagi mahasiswa dan mahasiswi Universitas Internasional San Diego . Untuk itu kalau sampai bocor maka akan di tambah lamanya kurun waktu hukuman menjadi 2 kali lipat.

  5. Jika ada suatu hala yang tidak terduga maka surat ini bisa di perbaharui atas kesepakatan kedua belah pihak.

  6. Bagi yang gagal menjalani hukuman harus keluar dari UNISD.


Dengan hal yang di pertaruhkan yaitu harga diri.

Tertanda


Pihak 1 pihak 2

SIVA ALEXA

Siva Pradata Utama Alexandria Ferdian Pert

Saksi – saksi :Seluruh Mahasiswa jurusan kedokteran dan hukum Universitas Internasional San Diego

* NB : SMU Elit akan ditentukan setelah pemenang ditentukan.

Gue ucek lagi tuh kertas, lalu gue campakan ke dalam tong sampah. Mata gue kini tertuju pada tumpukan kado di atas meja belajar gue. Beberapa di antarannya adalah dari Mama dan Papa. Gue males ngelihatnya, buat apa kado banyak, tapi tanpa doa dan wejanggan buat gue. Mereka memang selalu sibuk dengan pekerjaan. Dan di antara tumpukan kado itu, gue berhasil menemukan sebuah kado yang di balut kertas kado pink, dan pita jingga. Kecil dan mungil. Dari kartu ucapannya kalo itu hadiah dari kakak tersayang gue. Dengan perlahan gue membukannya, mulai dari pita yang mnguncinya. Sebuah kalung dengan liontin,” Brother Complex” yang di hias dengan warna-warna zambrut . Kak Sam memang paling ngertiing gue. Seulas senyum puas terlukis di wajah gue, saat gue mengalungkan tuh kalung di leher gue . Ada sebuah surat yang di sertakan dalam kado itu.


Hai jelek….

Gimana rasannya umur sudah menginjak 18 tahun?

Enak gak? Kamu dulu pernah bilangkan , gak pingin jadi dewasa.

Adikku yang manja , fase dewasa itu lumrah jadi kamu harus menghadapinya untuk jadi orang yang bijak. Sorry ya kakak gak bisa menemani detik-detik pergantian usiamu. Kamu tahu kan di Ausi sekarang kakak lagi sibuk banget nyelesain skripsi.

Btw gima kuliah mu?

Ini sebenarnya aku mau ngucapn selamat apa nulis surat ya? Panjang banget! Semoga kamu tidak bosan membacanya.

Aku menghela nafas. Dasar Kakak, tetep aja seperti dulu , cerewet.Aku mengintip beberapa lembar kertas berikutnya. Masih ada dua lembar, ini berarti surat ini akan memakan waktu ku. Akhirnya aku memutuskan untuk membacanya sambil duduk di atas meja rias.

Kamu ingin jadi aktivis kan? Aku tahu kamu tuh anak yang jenius, tapi kakak juga tahu kamu itu sebenarnya rapuh kalo soal sosialisasi. Kamu sangat manja, ceroboh, angkuh, egois…….tapi untung masih ada Addin ya yang setia mendampingi adikku yang cerewet,. Salam juga buat dia. Bilang terimakasih karena sudah menjaga dengan baik Adik kesayanganku, dan betah dengan semua omelan mu. Hehehehh….

Lex, Kakak 2 bulan lagi udah kelar, dan rencana mau pulang ke Indonesia. Ada pesen dari Mama, kamu jangan nakal ya? Heheheheh…rupannya Mama masih nganggep kamu anak kecil ya?

Kalau mereka masih menganggap aku anak kecil kenapa mereka malah menelantarkanku sendiri di sini. Pake acara nyuruh Kak Sam kull di Ausi segala. Ngambil sumber kebahagiaanku satu-satunya di rumah ini. Dasar egois. Kembali kutekuni surat dari Kak Sam.

Kakak yakin kamu pasti saat ini sedang menggerutu pedas, samil manyun lima senti.Hahahha…kangen banget aku sama kamu. Secara, kamu itu kan Brother Compleks, kamu pasti 100 kali lipat lebih kangenk aku kan? Ngaku.

Kamu jangan marah ya , kalau aku beritahu saat ini Kakakmu yang keren ini udah punya gebetan, anak Indonesia. Jakarta juga. Dia orangnya cantik, tapi kamu masih lebih cantik. Aku tahu kamu pasti saat ini pasti manyun 10 centi.Hahahahaha. Kapan-kapan akan ku ajak dia ke rumah, buat ku kenalkan ke kamu. Dia ankanya baik kamu pasti seneng ngobrol ama dia.

Lex? Kamu gak lupa minum obat kan? Mama sebenarnya khawatir baget ma kesehatan kamu. Yang pasti kalo masih mau jadi adik Samuel Ferdian Perth , Alexa harus kuat dan gak boleh sakit-sakitan. Continou kami minta laporan kesehatanmu ke Paman Hardian, jadi jangan kira kita di sini gak merhatiin kamu ya.

Kalu sempat kunjungi kediaman Om Hardian Pratama, kamu tahu kan alamatnya. Yh hitung-hitung sebagai tanda terimakasih, selama ini dia mau jadi dokter pribadimu. Melayani Alexa yang cengeng dan cerewet saat menghadapi jarum suntik, pasti bukan hal mudah. Hahahahahahah…gemes rasanya aku inget kalo kamu lagi gondok.

Lex, di umurmu yang ke-18 ini kamu kudu bisa bersikap dewasa, gak boleh manja lagi. Kamu harus jadi anak yang peka dan peduli pada sekitar, jangan cuek kayak dulu-dulu.

Intinya Kakak ingin yang terbaik buat kamu. Once again, I hope u happy.

Happy Birth Day sis….

Miss you …

Your Brother

Samuel Ferdian Pert

Gue lipet rapi tuh surat dan gue simpan baik-baik bersama dengan surat Kak Sam yang lain. Setiap aku kangen ama dia , pasti semua suratnya yang rutin dia kirim tiap minggu jadi bulan-bulanan gue.

Emang sih dah ada yang lebih praktis and canggih ketimbang surat yang di tulis tangan, apalagi kalo gak e-mail. Tapi, ini sebenarnya permintaan khusus gue ke Kak Sam, sebenarnya bisa di katakana hukuman khusus, karena dia udah milih kuliah di luar Negri ketimbang nemenin gue. Sukurin! Hehehehehehehe, emang enak.

Gue meraih Hp yang letaknya gak jauh dari jangkauan tangan gue. Dan gila aja ada 305 Sms, yang kebannyakan mengucapkan selamat ultah buat gue, ada yang dari teman kuliah, dari teman SMA, dan masih banyak lagi, tungggu! …. ada satu SMS yang isinya malah nyinggung soal penyamaran gue. Ini pasti dari Siva, siapa lagi yang tega coba, ngejek gue saat seharusnya dia ngucapin selamat ultah buat gue.

Dah bangun Nenek Lampir…

Gimana dah siap…

Oh ya, baju yang gue siapin harus di pake ya.

Kan gue nyiapinnya susah banget.

Jangan lupa nama lo sekarang Minah.

Hahahhaha…

Gue gak bisa bayangin ekspresi lo sekarang

Pasti kayak geranat mau meledak

Habis…Siva di lawan !!!!!! :-p

Oh y…gue lupa bilang

Kalo gue punya kamera pengintai di sana

Jadi jangan kira gue gak tahu aktivitas lo ya

Oke met menjalani mission ya…

Semoga hari lo menyenagkan

Frome : Gurita_gila <0812453xxxxx>

Seratus buat otak brilian gue, ternyata bener dugaan gue, kalo Siva yang ngirim.Sialan! Dasar cowok gak berprikemanusiaan. Yang lain ngasih selamat, dia malah ngejek gue. Gue sumpahin jadi kodok . Punya prikemanusiaan dikit napa.

Gue memasuki kamar mandi dengan gontai, membawa baju seragam SMA yang sudah susah payah di siapkan Siva.lha iya susah payah , karena seragam itu sangan kucel dan bau apek. Dia dengan santai mengatakan kalau ini adalah salah satu bagian dari skenario penyamaran sebagai seorang pembantu .

Sepuluh menit aku melihat cermin dan bingung harus berdandan seperti apa. Masalahnya rambutku terlalu modern kalau jadi seorang pembantu, mana ada cobak pembantu rambutnya di Ion Jepang terus di kasih hight light merah. Keren banget tuh pembantu, kalah ntar majikannya. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya pada pakarnya. Si Iyem, yap pembantu gue yang super gaul.

“ IYEM…YEM…” ,

“ Iya Non, whats happened? Iam here….” , sahut Iyem dengan nada medok surabayanya.

“ Loch kok Non Alexa, pake baju univorm again toh, kan dah gak higt school babe?”

“ Eh…lo jangan banyak nanya deh, pokoknya lo harus merahasiakan semua ini ke mama dan papa ,tak terkecuali Kak Sam, kalau gak gue pecat lo. Dan satu lagi di depan gue lo jangan panggil non lagi panggil gue ‘ Minah ‘, dan itu berlaku mulai hari ini, latihan gitu, buat ngejalani misi gue .Sekarang gue ini adalah pembantu di rumah ini. Inget itu ! Dan tolong katakan ke pembantu yang laen.”Iyem memandang gue dengan heran. Mungkin dalam hatinya sedang berkecamuk binggung. Aneh – aneh aja mjikanku ini. Kemudian dengan pasrah iyem mengangguk diam.

“ Oh ya Yem, lo punya ide gak gue harus menata rambut kayak apa agar terkesan jadi seorang pembantu gitu. Gue bingung neh!” , ujarku seraya memandang kearah Iyem yang baru gue sadari kalau dia sedang mangap kaget.

“ Miss Alexa want to be like Iyem, pembantu gitoh. Oh my god!”

“ Eh jangan kegayaan pakai bahasa Inggris deh Yem, pembantu aja pakai gaya.”

“ Loch Non, kan biar keliatan keren. Kalau pembantunya aja keren kayak Iyem , kan yang bangga tuannya juga. Gimana non? Kan banyak tuh selain Iyem yang lebih keren. Jaman sekarang gitu loch Non, kan banyak pembantu yang keren. Gimana…gimanaaa?”

Bener juga tuh kata Yem, gak masalah kan kalo gitu , gue cuman perlu mengepang rambut gue . Dan itu udah nandain “Ndeso”,

“ Ok Yem, gue gak jadi deh Tanya ke lo. Cepet sana pergi. Bilang ke Mang Udin, gak usah nyiapain mobil , soalnya gue mau naik angkot aja.”

“Iya non.” Ujarnya seraya berlalu dari kamar, menyisakan siluet heran dan kampungan.

Sepeninggalan Iyem aku mulai membenahi penampilanku. Dan saat aku melihat bayanganku di cermin aku melihat seorang Minah, bukan Alexandra Ferdinan Pert yang selama ini di kenal sebagai ratu modis di kampus.

Minah adalah seorang pembantu, yah medok, kampungan, telmi, dan rendah diri.Walaupun sudah di kepang dua , dan melepaskan semua atribut aksesoris dan make up ternyata gue masih terlihat cantik. Malah semakin cantik, karena kepolosan gue. Yap, bagus tambah satu sifat lagi polos. Sebagai seoang pemain teater tentu tidak sulit buat gue memerankan seorang karakter pembantu.

“ Yem gue berangkat ya..!”

“Loch gak sarapan dulu Non, yakin neh non mau naik angkot?”

“Udah deh lo gak usah banyak tanya. Mana bekal gue.”

Iyem menyerahkan sebuah kotak makanan yang berisi sandwich 3 lapis.

“ Eh Yem, gue bilang tadi kan gue bawa bekal supermie bukan sandwich, mana ada cobak pembantu bawa bekal makanan ginian.”

“Eh non, jangan deh, ntar non sakit lagi. Dari dulu kan non Alexa selalu selektif kalo soal makanan. Kalau makan mie aja ntar non alergi lagi. Kan makannya bisa sembunyi ntar.”

“ Udah deh mana. cerewet loh. Gue berangkat dulu…!”

Sepeninggalan Gue, Iyem Cuma geleng-geleng keheranan. Yah mang bener kata Iyem, gue emang selektif soal makanan. Dasar.


T_T

Asap mengepul dari sebuah metromini mengenai wajah gue, sebel gak sih ! Bagi gue yang gak pernah hidup susah, Menyetop metromini aja susahnya gak ketulungan, Gimana gue ntar jadi pembantu coba. Fuhh….. Sumpah deh kalo mulut gue itu keramat, gue bisa nyumpahin Siva jungkir balik jalan pake tangan. Yah sekali lagi itu kan Cuma pengandaian. Now….i must be a sportif human. Salah gue juga lagi…ngapain gue bisa masuk jebakannya Siva, kontrol emosi plissss…. Alexa…Alexa… lo emang dari dulu gitu ya. Gak mau dikalahin, Tapi… ingin selalu terlihat perfect di mata semua orang, Capek deh jadi gue… Secara gitu loh.. gue tuh anak Konglomerat, Musti jaga image kan … buat jaga nama baik keluarga. Yah..sebenernya kalo boleh milih, Gue pengen jadi anak orang biasa aja bukan anak kolektor BERLIAN kayak mama gue dan bos minyak kayak papa gue. Kalo gitu kan enak. Gue gak harus jaga image dan bisa ngliatin diri gue apa adanya kepada semua orang yang slama ini gue tipu dengan topeng muslihat gue.

Klakson metromini membuyarkan lamunan gue, Gila ngerem mendadak lagi..

“SMU FERDIASH….SMU FERDIASH…SMU FERDIASHH…..”

“STOP…STOP…pak…budek kali ya lo….”teriakku karena jengkel sopir metromini itu gak berhenti juga.

“Lain kali makanya kuping dipasang ,Pak .Gue jadi telat kan?Dasar sopir gak becus…” omelku sambil menyerahkan uang recehan berjumlah dua ribu rupiah. Sopir angkot itu hanya melengos lalu membawa metromini sialan itu.

“Fuhh… Gue marah lagi nih…control emosi Alexa…lo sekarang itu Minah, Cuman pembantu. Yang punya cadangan kesabaran itu membludak banget. Inget.. lo Minah bukan Alexa si putri yang suka marah. Lo Cuma babu.. yaaa… gue Cuma babu… yaaa …gue CUMA BABU….” Gumamku pada diri sendiri.

Lima menit gue berjalan akhirnya gue sampai di depan sekolah. Agak merinding juga sih ngeliat gerbang yang segitu besar. Ngebayangin selama enam bulan gue nyamar jadi seorang siswa di sini dan gender gue adalah seorang pembantu. Sumpah deh… ngimpi aja gue gak pernah kayak gini.

“Ok sebelum masuk gerbang.. lo Minah bukan Alexa Huh……. SEMANGAT….”

“ Lo harus tahu Lex, it’s a importen mission, so Missi itu harus imposible.”

Dengan sigap gue melangkahkan kaki ke line gerbang, Masuk bersama segerombolan murid yang menurut gue Cuma murid yang setor muka di sekolah.

Gue berjalan berkeliling di sekitar ruang kantor guru mencari-cari ruang administrasi untuk mengurus kepindahan gue. Saat gue melaju dan tak menoleh kearah depan ‘BRUK….’ Kecelakaan kecil pun yang menggores lututku terjadi.

“I’m sorry I don’t know… are you ok??” ujar seorang lelaki yang tubuhnya di balut seragam basket.

Gue menoleh ke arahnya dan DAMN… dalam hati gue mengumpat, Sedetik berikutnya gue terngiang ke sipemilik wajah yang gue yakin bener udah berkarat di otak gue dan bakalan butuh HCL banyak untuk menghapusnya.

“NGAPAIN LO DISINI….LO MAU GANGGU GUE LAGI…..LO ITU YA BENER-BENER………..” teriak gue denga sigap, dan menghadiahkan banyak bogeman ke arahnya.

“Eh tunggu….tunggu?? Lo salah orang…” ujar cowok dia mencengkram tanganku yang sudah mulai berani menghantami dirinya.

“ Eh…loh? Gue kirain teman gue.”, ujarku terbata setelah menamatkan wajahnya yang memang mirip dengan Siva tetapi beda. Sorot matanya yang setenang danau, rambut cepaknya, kulit putihnya, bibirnya yang merah merekah. Jelas beda dengan Siva, beda sekali , sorot mata Siva tegas, seperti mata elang, kulitnya tidak putih, cenderung coklat karena sering olahraga outdor, dan ada satu lagi yang tak mungkin di miliki oleh cowok yang ada di hadapan gue ini , yang di miliki oleh Siva, pandangan benci kearah gue.. “ Sorry…”, lanjutku, bersamaan dengan dia melepaskan cengkraman tanggannya.

“ Iya gak papa…lain kali hati- hati ya jangan sampai salah orang lagi. Btw lutut lo gak papa kan? Keliatannya berdarah tuh.”

“ Eh gak papa …lo gak usah khawatir, ini cuman luka biasa kok. Oh ya kalo boleh nanya ruang administrasi tuh dimana ya?”,

“ Oh lo anak baru ya! Mau gue antar ?”,

“ Ah…gak usah repot-repot, cukup beritahu tempatnya saja sudah sangat membantu gue.”

“ Oh …gitu. Kamu tinggal jalan lurus aja, ntar ada lift kamu naik ke lantai 3. Setelah turun dari lift kamu belok ke kanan, ada kantor yang tulisannya ruang administrasi. “

“ Hem… makasih ya.”

“ Lo yakin, gak mau di anter?”, tannyanya masih ragu apa aku akan mencapai ruang administrasi.

Gue mengangguk tegas , dan tersenyum sekilas ke arahnya, kemudian berbalik kearah yang dia tunjukkan tadi. Apa ini pertanda baik atau buruk gue gak tahu. Ketemu cowok yang wajahnya mirip Siva. Semoga aja cuman wajahnya yang mirip. Kalo kelakuannya sampai mirip. Ampun God, bayangin aja serem.Hih!.

Berkat intruksi yang di berikan cowok tadi, akhinya tak selang 15 menit gue udah keluar dari ruang atministrasi dan menyelesaikan segala sesuatunya untuk masuk SMU ini. Mulai detik ini gue adalah murid di SMU Ferdiash.



_




Dalam pikiran gue masih terngiang bayangan cowok yang gue temui tadi. Mulannya gue kira dia Siva, tapi …yah…ternyata bukan. Ya memang bukanlah, ngapain juga tuh Beruk ada di sini. Lagipula, prihal mirip kan lumrah. Kata para ahli tuh, di dunia ini setidaknya kita punya satu orang yang kembar ama kita. Ini kan bukan kembar, cuman mirip. Tapi jangan-jangan adiknya Siva, ato sepupu, atau apa gitu kek. Wus…wus Alexa, lo kok jadi gelambyar gini sech. Lo sekarang harus Fokus ma mission yang gak boleh imposible ini, alias harus possible.Kalo seandainya bukan karena hukuman ini , gue juga lebih milih berada di kampus, sesuai tingkatan gue yang sesungguhnya. Bukannya di sini, terkurung dalam jerat ABG. Sok tuah deh gue!

Guru pembimbing yang gue yakin adalah wali kelas gue, membimbing langkah gue masuk ke dalam ruang kelas yang letaknya berselat satu lantai dari ruang administrasi. Di atasnya ada papan nama yang bertuliskan XII IPA 5.

“ Silahkan masuk , Minah..”

“ Inggeh Buk…..” Ujar gue mulai melancarkan aksi sebagai seorang pembantu.

Bu Sofi berbicara panjang lebar sebelum beliau memerintahkan Gue mengenalkan diri. Beberapa murid terdengar antusias ingin tahu sapa gue.

“ Nah Ibu pikir sudah cukup Ibu berpanjang lebar di sini, sekarang giliran Minah sendiri yang memperkenalkan dirinya. Silahkan Minah…”

Gue menganggukkan kepala, dan maju kearah depan, lebih depan 2 langkah dari tempat Bu Sofi berdiri.

“ Salam kenal…nama saya Minah, saya pindahan dari Jawa. Dan saya di sini ikut sama Mbok saya. Dan saya sekarang tinggal di rumah majikan saya…” ucapan gue terputus karena ada seorang cewek yang wajahnya super judes, yah walau cantik…menyela gue.

“ Pembantu? Gak salah masuk sekolah lo. Jangan-jangan lo sebenernya mau masuk di sekolah sebelah lagi. Sekolah para gelandangan. Iya gak temen-temen…” , ujarnya di susul dengan uhuhuhu dari kawan yang lain.

Iya memang di samping sekolah Elit ini ada sekolah Impres khusus rakyat jelata, yang didirikan oleh Bupati Bandung, dua tahun lalu.

“ Gak kok Non, saya gak salah masuk. Majikan saya memang mendaftarkan saya di sekolah ini.” , ujarku menahan amarah. Gue sumpahin tuh cewek , setelah enam bulan berlalu, setelah Siva, pasti dia yang bakal gue gantung terbalik. Sekarang bukan waktunya itu, jadi gue musti sabar dan ramah tamah.

“ Heh tuh liat emang dasarnya pembokat, manggil gue aja Non…hahahahahha” Lanjutnya, kali ini tawa dari satu kelas membuat telingaku panas.

Aduh kalau tahu menjadi seorang pembantu sesulit ini , gue nyesel deh selama ini selalu memerintah seenaknya para pembantu gue. Kasihan juga mereka, setelah gue ngerasain sendiri bagaimana rasanya menjadi seorang pembantu.

Bu Sofi akhirnya meredam tawa itu dan berkata bijak.

“ Siapapun Minah, dia juga berhak memperoleh pendidikan. Di sini dia tercatat sebagai seorang siswa, bukan seorang pembantu. Jadi, kalian juga harus beramah tamah dengan dia. Pembantu kan juga manusia.”

“ Iya Buk…”, kor suara murid yang lain.

Kemudian Bu Sofi menyilahkan gue duduk di bangku baris ke dua yang masih kosong. Serentak barisan cewek genit yang tadi paling semangat menguhu menatapku dengan tajam. Gue hanya melengos gak peduli.

“Permisi Buk…Maaf saya telat, tadi ada urusan OSIS mendadak, jadi saya harus menghadap Pak Kepala sekolah.”, kata seorang cowok yang baru saja memasuki ruang kelas, semua cewek di kelas itu mendadak histeris.

“ Wah Rama…aku kirain gak masuk. “

Cowok yang di panggil Rama itu hanya tersenyum lembut. Dan setelah aku sadar, kembali aku merasa otak ku berdenyut sebel, teringat akan wajah itu. Wajah yang sama dengan musuh bebuyutan gue-SIVA-.

Bukannya dia cowok yang tadi pagi tabrakan sama gue. Jadi namanya Rama, dan kita satu kelas. Hah…apa satu kelas. Mati gue! Apa yang musti gue katakan ke dia tentang logat gue ntar. Perasaan tadi pagi gue masih pake bahasa gaul deh, eh sekarang gue malah medok jawa lagi.

Dia menempatkan dirinya di samping gue, yang ternyata adalah bangku dia. Pantesan semua cewek tadi ngeliat sinis kearah gue, rupannya ini adalah bangku idola mereka, dan gue berani jamin yang gue dudukin ini adalah bangku yang memang sengaja di kosongkan buat menjaga kemurnian dari pangeran pujaan mereka. Tapi, gue sih gak peduli. Yang terpenting kan gue saat ini menjalankan misi gue, as soon as I can.

Rupannya Rama sadar kalau ada makhluk asing yang kini duduk di bangku sebelahnya.

“ Lo kan , yang tadi pagi tabrakan sama gue di depan kantor?”, Tanya Rama memastikan. Wajahnya terlihat sumringah.

“ Inggeh…saya memang yang tadi. Tadi saya minta maaf ya…karena saya menuduh Aden sembarangan…” , Aduh gue bingung mesti ngomong apa, dengan mengerahkan seluruh kerendahan hati gue menjawab pertanyaan Rama, dan berharap agar dia tidak berkomentar apa-apa tentang logat gue.

“ Oh gak papa…jangan panggil gue Aden dong, gak enak di dengernya. Nama gue Rama ! Lo?”, ujarnya seraya mengulurkan tangannya.

Fuh…syukur deh, dia gak mempermasalahkan tentang logat gue. “ Iya…saya Minah”, jawab gue seraya menyambut uluran tangannya.

“ Oke gue mohon kerjasamanya ya…”,

“ Sama-sama…”

Duh senyumnya, gak nahan Bo. Hus…buang pikiran ngaco, lo gak boleh terbuai oleh lelaki manapun Alexa. Remember that!

Hari pertama gue menjadi teman sebangku Rama berjalan datar saja, dia lebih asyik memperhatikan kearah depan ketimbang ngobrol dengan yang lain. Yah….gue yakin semuanya juga serius merhatiin, tapi merhatiin gue ma Rama, kayaknya ada tatapan mencerca gitu. Apa lagi tuh cewek yang belakangan gue tahu namanya Keyla. Matanya hampir mirip ikan koi yang sekarat , melotot gak jelas. Bikin gue risih aja.

“ Eh Rama, kamu gak risih apa duduk sama pembokat bau apek kayak dia.” Serunya mengheningkan kelas.

“ Eh…Apa Key?” , respon Rama ramah. Matanya beralih dari buku menatap Keyla.

“ Ya , makhluk busuk yang ada di samping loh itu. Yang super dekil , bau , and kummel, dia itu pembokat, tau gak sih Ram? Masak sich lo gak tahu, penampilannya aja tragis gitu…”, serentak Keyla and the genk tertawa mengejek.

Rama hanya menaikkan sebelah alisnya dan kembali menekuni buku yang berjudul, “ MENGAPA KITA LEBIH SUKA BERSIFAT MUNAFIK…” , sejenis buku pisikologis Islam, yang menuntas habis masalah kepribadian dan tuntutan. Gue hapal bener tuh, kan gue juga punya tuh buku di rumah.

Gue menatap ke arah Keyla, sepertinya dia sedang menggerutu sebal karena Rama nyuekin dia, dalam hati gue cekikikan gak jelas. Sukurin loh, mang enak di cuekin.

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi, dan ini bearti awal misi penyamaranku gak hancur-hancur bener. Yah setidaknnya gue harus menambah kosakata medok gue, musti les ke Mbok Tum nih, dia kan pembantu gue yang paling fasih bahasa medoknnya.

-_-
















Gue membanting pintu kamar gue dengan gontai. Capek juga acting jadi pembantu. Ngimpi aja seumur-umur gak pernah kebayang jadi pembantu. Hp gue berdering ringan, memanggil gue.

“ Iya halllo ,Da pa din ?”, suara Addin begitu ketara lelah dari sebrang sana.

“ Lex, gue tahu lo masih sibuk banget ma penyamaran loh, tapi, gue boleh minta tolong ke lo gak? Ini masalah pertandingan basket UINSD. Kita butuh event orgainezer neh. Raka sakit, kemarin dia kecelakaan. Sedangkan waktunya mepet.”

“ Heh…gue…maksud loh , gue kudu kerja sama ama si Siva. Amit-amit tuju keturunan gue sumpahin diri gue sendiri gak bakal.”

Hampir mutah gue. UINSD Cup adalah event rutin yang di adakan kampus gue, untuk menggalang dana social bagi anak-anak gak mampu. Acara yang diadakan sech seputar olahraga dan olimpiade, tetapi tahun ini basket jadi pilihan sang ketua, siapalagi kalo gak Siva. Ketua yang lama memang kagum banget ama kecerdasan dan keuletan Siva. Butuh beberapa bulan untuk membujuk Siva baru jadi ketua acara ini.

“ Please dong, Cuma loh orangnya yang bisa, lagian lo ntar gak bertanggung jawab langsung ke Siva kok. “

“ Males gue….lo tahu kan dia tuh musuh bebuyutan gue. Sekali NGGAK , TETEP NGGAK !”

“ Common Lex, please, I need your brain for do it.”

“ Eh lo maksa banget sich, ok deh, pokoknya kalo lo mau jamin gue gak bakalan di perntah-perintah ma Siva gue mau jadi event organeser UNISD Cup.”

“ Ok deh, bisa di atur. Makasih ya Alexa Ferdian Perth.”

“ Yup…”

“ Eh , Btw gimana hari pertama lo, penyamarannya berhasil gak?”

“ Ah, ceritannya ntar aja deh…kalo kita ketemu, panjang banget soalnya.”

“ Ya udah kalo gitu, makasih ya Lex, bey…”

“ Bey…”

Klik, telepon di putus. Gue musti kerja di bawah kepemimpinan Siva, idih ogah banget deh gue. Kalo gak Addin yang minta-minta gue seumur hidup gak bakalan mau. Hitung-hitung balas budi sama Addin, selama ini dia sudah mau jadi tong sampah gue. Gue menoleh kearah jam, masih pukul 3 sore, gue mau mengistirahatkan jiwa raga gue dulu, karena seharian sudah capek betul menyamar.

$_$

Siva terlihat sibuk dengan berkas di mejanya. Sepertinya menjadi seorang ketua baginya sungguh menyita perhatiannya akan sekitar, semua kosentrasinya tertuju pada berkas yang menggunung. Gue ngintip sedikit di ruang metting panitia UINSD Cup yang seminggu lagi bakalan di gelar di Sentral Haal Independent, salah satu gedung milik UINSD yang letaknya di Dago.

Gue mengintip pelan, rasanya males banget gue harus mengetuk pintu dan konfirmasi ke dia, prihal sie publikasi yang gue tangani Akhirnya dengan rendah hati gue mengetuk pintu perlahan, agaknya Siva tidak menyadari keberadaan gue di sampingnya saking sibuknya dengan tumpukan kertas yang ada di hadapannya.

“ Permisi…Siv, gue mau minta tandatangan nih.” Ujar gue dengan jengah, kayak gue bawahnnya aja.

“Taroh aja di situ.” Ujarnya, masih sibuk dengan tumpukan dokumen, yang gue yakini adalah macam-macam anggaran, dan tetek bengek yang lain. Ternyata nih anak kalo serius ganteng juga. Alisnya tebal, menunjukkan kalo dia gentel banget. Matannya tajam, tanpa ada sorot keraguan. Tubuhnya tegap, punggungnya seksi. Kulitnya coklat terawat, menandakan nih cowok rajin olah raga, kalo gak salah hobinnya surfing ma basket. Yang paling berkesan adalah bibirnya yang seksi. Hus…apa yang gue pikirin…apa otak gue udah miring ya , sampai muji segale macem tentang Siva. Duh amit-amit jabang bayi.

“ Ok deh …jangan lupa ya. Ntar gue ke mari lagi, ama minta berkas promosi kemaren.” Ujarku seraya berbalik menuju pintu keluar.

“ Tunggu!”

Langkah gue terhenti.

“ Ada apa?”, kataku sebal.

“ Lo ngapain di sini. Bukannya lo mestinya saat ini sedang ada di SMU Ferdias menjalankan hukuman.” Tannyanya dengan wajah yang super menyebalkan. Sudah gue kira kalau dari tadi dia gak sadar kalo gue yang mengantar dokumen itu ke dia. Dasar …SOK sibuk.

“ Yah…kalo gak karena Addin yang merengek minta gue buat nyumbang Brain gue di UINSD Cup ini, gantiin Raka yang kecelakaan, gue gak bakalan berdiri di sini minta tanda tanggan lo. Lagian siap juga yang mau jadi bawahan BERUK kayak lo…males banget gue.” , jawab gue asal aja, habisnya gue sudah males sok akrab ma dia. Males ngeladenin dia, jadi berkata kasar gue kira the best key.

“ Lo itu gak pernah berubah ya. Gue gak pernah minta lo jadi anak buah gue, kan temen lo yang minta. Jadi jangan ke-GRan ya ,. Gue gak butuh Brain dari gadis sombong macem lo…” katannya tak kalah sinis. Apalagi ada penekanan di kata Brain ma GR. Apa cobak maksudnya kalo gak ngeremehin. Karena udah kecapean gue langsung melengos ninggalin dia. Yah sebenarnya dalam hati gue menggumpat ke dia.

“Sialan tuh cowok dia pikir dia siapa, beraninnya mengejek gue. Ngeremehin lagi. Cobak kalo gue nolak tawaran ini, pasti nih acara gak bakalan lancar…” gerutu gue kesal. Tanpa sadar gue lupa kalo saat ini ada pelajaran tambahan di skull gue.

“ DAMN ,napa gue sampai lupa. Wah musti cepet berangkat nih…kalo gak mau di lumat ma bibir lebar Pak Marjo.” Gue bergegas berlari menuju lift. Lima menit berikutnya gue sudah ada di dalam mobil Addin.

“ Lo yakin mau pake baju itu….”, ujar Addin ngeri ngelihat gue.

“ Secara gitu , gue sekarang pembantu. Gila kali ya, pembantu pake baju merek GUCI “ jawab gue cuek.

Saat ini penampilan gue emang 180 derajat beda banget dengan yang namanya Alexa. Sama sekali jauh dari kata modis dan glamour. Gue cuman make kaos oblong warna coklat, yang agak kucet dan bolong di bagian ketiak, sama rok panjang yang menjuntai ke mata kaki gue. Agak kebesaran, karena gue minjam si Iyem.

“Gimana, udah mirip pembantu gak?”, tannyaku bangga setelah berhasil merias diriku dengan perfect mirip pembantu.

“ Gue musti ngomong apa…lo kayaknya dah puas banget ma dandanan lo yang kampungan itu…”, Addin agak merendahkan nadanya saat di bagian’ Kampungan’ , gue tahu dia gak bermaksud mengejek.

“ Yah mau gimana lagi. Namanya tuntutan kan?”

“ Iya sih Lex, tapi kenapa sih kamu njabanin kemauan surat perjanjian yang gak jelas itu. Kan kamu gak perluh sampai segininya.Kamu dan Siva apa gak bisa damai, akur kayak dulu. Masak hanya karena…”

“ Stop…” potong gue. Gue bisa nebak kelanjutan dari omongan Addin.” Din, lo temen gue kan? Mestinya saat ini lo dukung gue. Gue saat ini lagi dalam kondisi yang gak gue pingginin. Antara gue dan Siva, gak akan pernah ada kata damai. Karena semuannya sudah terlanjur rusak. Dia yang memulai, dan gue pinggin dia juga yang mengakhiri.”

“ Yah, gue ngerti. Tapi kan itu sudah setahun berlalu. Kenapa dengan kalian. Dulu kamu dan dia kan teman Lex. Deket gak kayak Tom and Jerry kayak sekarang. Apa hanya karena…”

“ Udah…cukup Din, gue udah capek hari ini. Gue gak mau nambah pikiran dengan bertengkar . Gue berangkat dulu, udah telat.” Ujar gue, lalu pergi meninggalkan Addin. Ada rasa kesal dalam hati gue saat Addin , sahabat terbaik gue, tidak mendukun tindakan gue. Apa salahnya pingin jadi yang terbaik. Sudahlah…saat ini yang terpenting, gue harus cari cara untuk menghadapi kemarahan Pak Marjo.


















Gerbang SMU Ferdiash, sudah di tutup rapat. Firasat gue buruk neh, pasti bakalan ada hukuman yang mampir neh. Sial ! Saat gue mau melangkah memasuki gerbang sebuah Honda Jass merah metalik hampir saja menabrak diri gue.

“ Sorry…”, ujar pengemudi yang kemudian gue tahu adalah Rama.

“ Rama…ngapain di sini toh. Gak ikut pelajaran tambahan?”,

“ Gue telat. Lo sendiri ngapain di sini?”

“ Sama. Gue juga telat. Tadi mau masuk , eh malah hampir kamu tabrak.Aneh ya …kenapa setiap pertemuan kita ntuh , mesti tabrakan. Jangan-jangan ini pertanda buruk lagi” canda Gue.

“ Hahahahah Sorry ya Nah, ya mana mungkin gue bermaksud mencelakakan loe. Tapi bener juga ya, kenapa selalu insiden tabrakan.”

Akhirnya gue dan Rama ketawa bareng.

“ Eh, kita kan musti masuk.” saran gue, ngeri ngebayangin kumis Pak Marjo. Hih…jadi merinding disko gue.

“ Males ah…gimana kalo kita bolos aja “ , cetus Rama.

“ Kamu gila toh, gak ah. Saya takut kena semprot Pak Marjo. Bayangin aja merinding Ram, apalagi beneran.”

“ Alah…lo gak usah khawatir Nah. Polos banget lo. Gue punya cara buat naklukin Pak Marjo, secara… gue tahu kelemahan dia.”

“ Bener? Gak bo’ong, aku gak nanggung loh kalau ntar Pak Marjo marah.”

“ Iya deh gue jamin. So, lo mau kan ikut bolos?”

Sebenernya ini bukan tipe gue, bolos lagi. Sakit aja waktu SMA dulu gue jabanin masuk deh. Tapi ini kan situasi lain, lagi pula gue juga lagi males masuk kelas. Apa gue terima aja ya tawaran Rama, sapa tahu gue bisa ngejalanin hari yang asyik sama dia. Hitung-hitung refresing otak.

“ Oke”

“ Nah gitu dong. “ , Ujar Rama , seraya membukakan pintu mobilnya untuk gue.

“_”

Gue mulai merasa nyaman ngobrol sama Rama, ternyata gue dan dia memiliki banyak persamaan. Sama-sama suka membaca, suka nonton film animasi,benci film horor, sama-sama pingin jadi aktivis . Suka dengan politik, dan aktif dalam organisasi.

“ Eh…gue penasaran banget ma lo Nah. Gimana ya…gue ngerasa kalo lo itu gak kayak pembantu kebanyakan.”

“ Apa ?!?!?!!?!?”, gue hampir saja tersedak oleh cendol yang gue kulum.

“ Lo gak papa Nah?”

“ Gak….gak papa kok!”, mati gue, apa penyamaran gue bakalan terbongkar ya. Masak baru seminggu aja, semuanya udah berantakan., Kalo ketahuan si Siva bisa gawat neh.

“ Hey…Minah…ngelamunin apaan sih. Seruh banget. Sampai kamu nyuekin cowok ganteng kayak aku.” wajah Rama marah di buat-buat. Imut banget nih cowok.

“ Hahahahah Rama aneh ya…kayak teletubis kalo gitu. Aku gak melamun kok. Memang kenapa kok kamu sampai berfikir aku ini bukan pembantu?” pancing gue. Berusaha bersikap sewajarnya.

“ Yah loh tuh berwawasan luas, dan anaknya nyenengin, walau penampilan kamu agak kampungan, tapi ternyata dalemnya kamu tuh lebih berisi dan modern ketimbang kebanyakan cewek di sekolah kita.”

“ Hem” gue berdehem, seraya mengarahkan pandangan gue ke mataRama” Ram, jadi, kamu selama ini berfikir kalo pembantu itu bodoh? Kampungan alias ndeso? Gamtek?”

“ Bukan gitu, gue gak bermaksud mengejek…”

“ Aku ngerti…” sela gue” Selama ini paradigma masyarakat tentang kastaku memang seperti itu. Itu hal yang lumrah, aku gak marah kok. Tapi aku mohon berusahalah untuk percaya, kalo Minah, di hadapan kamu ini adalah sosok pembantu yang lain, gak semua pembantu sama, sama halnya kayak gak semua orang yang namanya Rama , ganteng kayak kamu. Iya ,toh?” Ulas gue, masih tetap menatap mata Rama, konon kalau kita mau terlihat jujur dan menyakinkan kita mesti menatap mata orang itu kalo bicara. Walaupun sebenarnya hati gue berdetak gak karuan, entah karena kebohongan atau karena Rama, gue sendiri juga binggung.

Rama menghela nafas panjang, sepertinya masih ada beribu pertanyaan yang inggin dia ajukan ke gue, tapi gak jadi.

Yup…perfect Alexa, Rama kalah telak! Heheheheh. Tapi lo mesti inget gara-gara satu kebohongan lo mesti menyiapkan berjuta kebohongan baru. Tapi semuanya bisa di atur, gue kan jenius. Siapa dulu Alexa!.

_

Suara ketukan pintu membuatku mengalihkan konsentrasiku kearah pintu.” Siapa”

“ Ini Bibik Non, ada non Addin di luar. “

“ Iya Bik, suruh dia nunggu bentar, aku mau ganti baju dulu.”

Secepat kilat gue mengganti kaos oblong gue dengan setelan kemeja putih dan celana jeans ketat. Lalu gue balut kemeja putih tersebut dengan bleazer ungu . Dua buah anting bewarna maron , yang menjuntai tak terlalu panjang gue sematkan ke telinga gue. Tambah kalung rotan, sip…gue terlihat cantik. Gue cuman nyisir asal rambut gue yang sekarang sudah gue cat hitam legam, dan di ikalkan.

“ Soory ya nunggu lama”

“ Gak papa….kartu anggota jangan lupa. Gak boleh masuk loh ntar.”

“ Sipppp….!”

“ Kalo gitu lets go.”

“ Ayo.”

Gue dan Addin menelusuri beberapa jalan besar di kota Bandung sampai akhirnya mobil Addin berhenti di persimpangan Tubagus Ismail.

“ Ngapain berhenti di sini?”

“ Ada temen yang mau bareng. Mobilnya mogok, barusan dia SMS gue.”

“ Sapa?”

“ Ada deh ntar…lo pasti suka dengan dia.”

“ Oh gitu…”

Lima menit menunggu dari arah zebra cross muncul lelakai yang membuat darah gue mendidih .

“ SIVA?!” teriak gue seraya melemparkan pandangan marah campur heran ke Addin. Addin cuman nyengir mengiyakan. Gila, gue bisa mati kepanasan neh kalo duduk satu mobil dengan tuh cowok. Ingin rasanya gue turun dan menyetop taxi. Tapi Addin melarang gue. Gimana gue senang,…? Ngeliat dia satu meter dari jarak pandang gue aja darah gue udah mendidih, gimana kalo harus satu mobil dengan dia. Bisa meledak gue.

Siva mengetuk jendela mobil . Addin cuman tersenyum dan mengisyaratkan agar Siva naik.

“ Tanks ya Din. Mendadak tadi ban gue bocor, musti ganti. Eh kebetulan ada bengkel, cuman cadangan bannya habis, jadi gue musti nunggu 2 jam. Dan…”

“ Siapa cobak yang nanya.” Gue memotong cerita Siva.

” Oh ada orang toh. Gue kira patung kepiting rebus. Habis mukannya merah banget.”

“ Huh…panas banget ya , Benggek nih .AC nya mati ato ada radiasi sivanis varion ya di sini. Bikin gerah aja.” Sindirku kejam, gue menamai gejala aneh setiap gue dekat dengan Siva dengan Sivanis Varion , semacam radiasi yang menyerang paru-paru dan mengkarat di otak. Jadi kalo dekat dengan Siva, pasti otak dan janung gue bekerja 100x lipat lebih heboh. Paru-paru menyempit, sebap alveoulus tersumbat. Hiperbola deh. Tapi mang beber tuh gejalannya. Spontan loh tubuh gue merespon keberadaannya.

“ Huh..” dengus Siva.

Agaknya dia benci banget ma gue. Ya sama kayak gue benci sama dia. Sapa juga yang mau semobil ama dia. Tahu gini tadi gue minta di antarin Mang Udin aja.

“ Gimana penyamaran lo? Sukseskan, awas ya kalo gagal ,1 tahun loh Minah”

“ Apa?”, kata gue terkejut dia memanggil gue dengan nama samaran gue. Nih anak memnag mengajak bertengkar.

“ La ya kan Minah, nama lo sekarang bukan Alexa Ferdian Pert kan? Bagaimana rasannya melepaskan gelar lo Nona Sombong”

“ Eh loh jangan ngajak bertengkar ya…dasar, lo mang cowok tapi mulut lo tuh cewek. Pedas menyengat kayak cabe. Pantes kali ya, wajah lo aja mirip banget ma lobak. Jangan-jangan Ibu lo ngidam sayur mayur lagi, kok anaknya wajahnya gak jelas kayak lo.”

“ Jaga mulut lo…lo yang mulai duluan bukan gue. Dan inget jangan bawa-bawa nama Ibu gue. Atau…”

“ Ato apa…” tantang gue. Siva kelihatan bingung. Lalu dia membuang muka ke arah jalan.

“ Huh pengecut.”

“ Terkadang diam itu menang nona. Harusnya kamu tahu bahasa social seperti itu. Dan bersyukurlah lo cewek. Gue menghargai lo kayak gue menghargai Ibu gue, dia ngajarin sopan santun dan adab bergaul dengan cewek. Tapi kenapa ya setiap ngeliat loh, apa yang di ajarin ma Ibu gue mendadak amblas, dan rasannya gue pingin bangget gampar lo….”

“ Sit…siapa juga yang mau ngelihatin muka ke situ.”

“ Sudah deh gue lagi males bertengkar ma cewek keras kepala kayak lo. Tetep aja gak berubah. Sayang ya lo Cantik tapi kelakuan lo sejelek gurita.”

Skat matc mulut gue sontak terkunci rapat. Dengan tampang angkuh Siva membuang muka dari tatapan gue.Sialan…gue di kacangin. Gue melirik ke arah Addin yang hanya menyuguhkan ekspresi gak jelas.

“ Sudah bertengkarnya?” tanyanya kemudian setelah suasana jadi sehening silence hill. Gue hanya mengendus.”Kalian itu, gak bisa ya kalo gak bertengkar sedetik aja. Heran gue.”

“ Gak usah di Tanya deh Din, kenapa gue benci banget ma tuh cowok, nyebelin banget ngeliat mukannya yang SOK”

“ Gue juga. Gue paling males ngeliat nona manja yang, sok pinter, sok tahu. Dan sok jagoan.”

“ Apa lo bilanmg…”

“ SUDAH CUKUP…” teriak Addin mengantisipasi terjadi letupan amarah diantara gue dan Siva untuk yang kedua kalinya” Biarkan barang sejenak nih kuping istirahat. Lagian apa kalian gak kasihan ama mulut lo..lo pada, dibuat ngomong dari tadi.Gue aja yang gak ikut punya mulut kesel ngeliatnya, masak kalian gak?”

Dengan berat hati gue mengunci kembali umpatan gue dalam hati. Tapi bener juga kata Addin , kenapa cobak gue benci banget ama Siva, kan yang selama ini yang ngerjain gue gak cuman dia, tetapi amarah ini selalu saja tertuju kearah dia. Dari kaca mobil gue ngeliat Siva yang asyik dengan tatapannya yang kembali di layangkan ke arah jalan. Apa dia juga mikir hal yang sama kayak gue. Apa dia juga bertannya –tanya kenapa gue benci banget ama dia.

“ Sudah sampai…”, ujar Addin, setelah dia memarkirkan mobilnya di bagian yang parking areannya panitia.

“ Ayo turun . Siv, tolong angkatin property di jok belakang ya. Gue ma Alexa mau menuju gerbang, ngecek persiapan di sana.”

“ Oke”,

Gue dan Addin langsung melangkah meninggalkan Siva. Dalam diri gue bernafas lega. Agaknya gue tadi kerasa banget bengek kalo deket tuh makhluk aneh, sekarang kayak udah minum Aspirin satu tong. Bengek gue ilang.

“ Huh…”

“ Ada apa Lex, lo capek ya?” ujar Addin ngelihat gue menghela nafas.

“ Eh…. gak kok Din, cuman agak pusing, dikit tapi.”

“ Bener?” kata Addin memastikan.

“ Alah kamu itu sok care.”

“ Lah iya toh la wong kamu temen ku.” Ujar Addin kali ini dengan logat medok jawa.

Kami jadi tertawa tergelak, gak sadar kalo dari tadi ada yang memperhatikan kami berdua bercanda dari sudut lain.

“ Eh…bukannya itu si Minah ya?”, ujar Rama heran bercampur penasaran.

“ Mana? Ngaco lo, mana mungkin Minah ada di sini? Ada juga dia sekarang lagi ngepel, secara gitu dia pembokat.” , sahut Ichsan, yang tak menemukan sosok gue di gerumbulan panitia.

“ Iya juga ya…tapi cewek tadi mirip banget ama Minah.”

“ Udah deh Ram, jangan mikir hal yang gak mungkin deh. Ayo kita ke Siva, dia pasti sudah nunggu lama. Gue males kena semprot dia.”

“ Hem” jawab Rama dengan enggan, dalam angannya masih terbayang wajah gue yang lain dari biasanya, yah…sebagi sosok Alexa.

)_(







Sorak sorai para penonton yang mulai memenuhi hall center , membuat telinga gue budek permanent. Sampai Addin yang jaraknya gak sampai satu meter di samping gue, musti mengerasakan 100x volume dia buat ngomong.

“ Gila ya rame banget.”

“ Iya…”, jawab gue dengan urat leher yang hampir putus.

“ Eh Lex, kita ke ruang metting aja yuk. Di sana pasti lebih tenang. Lagian kan acarannya masih 30 menit lagi.”

Gue mengangguk setuju.

Gue dan Addin harus memaksa menerobos kerumunan orang yang sedang antre tiket untuk sampai ke ruang metting yang ada di lantai 1.

“ Fuh…akhirnya gue bisa bernafas legah…”

“ Iya…gila …rame banget!”

“ Yah sapa dulu yang promosi…”, ujar gue membanggakan diri.

Gue dan Addin menghentikan percakapan tak kala kami lewat segerombolan pemain yang sedang menunggu jalannya permainan. Ada team pemandu sorak yang kayaknya lagi berlatih dan ada beberapa yang tidur. Gue dan Addin cuman menggeleng maklum.

“ Inget waktu SMA dulu ya. Kita sampai begadang gak bisa tidur.”

“ Iya. Dan gue inget banget waktu rok lo melorot. Hahahahah!”

“Sial lo, yang di inget pas yang memaluin doang.”

“ Hahahahha habis lo konyol Din. Pake rok kedodoran, dah tahu cears kan pemandu sorak yang banyak gerak, harus confet dong.”

“ Awas loh!” , ancam Addin , seraya menyuguhkan ekspresi marah yang di buat-buat.

“ Minah?!”, Deg…jantung gue berdetak kencang tak karuan. Suaranya sepertinya familiar banget di telingga gue.

“ Gue pura-pura gak denger dan terus melaju, tetapi sebuah tangan yang kokoh menarik tangan gue, sontak gue menghentikan langkah. Sedetik gue menata ekspresi gue.

‘ Eh…sakit tahu. Sapa sech lo?” kataku sok cuek, dan dengan ekspresi marah gue yakin udah menyimbulkan kalo gue marah dan dia salah orang.

“ Maaf”, ujar Rama, kemudian dia melepaskan cengkramannya.” Lo Minah kan?”

“ Minah? !? Siapa itu? Saya kira Anda salah orang.” , ujar gue sok tegas. Padahal jantung gue berdetak tak karuan.

“ Asal Anda tahu, saya ini Alexa, bukannya Minah. Saya rasa cara berkenalan seperti ini sudahlah sangat kuno.” Sindir gue sinis. Duh Rama maafin gue ya…gue gak bermaksud nyakitin hati loh.

“ Oh maaf saya tidak bermaksud jahat kepada Anda. Tapi Anda benar mirip dengan teman saya, jadi saya fikir…”

“ Sudah cukup bualannya…semua cowok memang sama aja, berdalil kenal padahal mau kenalan.” Damn apa yang gue katain. Dah ngalor ngidul nih omongan sangking groginya gue. Semoga Rama gak bisa membaca ekspresi gugup gue. Dengan berani gue tantang matannya. Sepertinya masih tersirat beribu tannya di sana tapi dia mengakhiri dengan berkata, “ Maaf…mungkin Anda benar, Saya memang salah orang.Permisi.” , ujarnya seraya berlalu dari hadapan gue. Gak enak banget hati gue.

“ Din, lo kok diem aja sih! Gak bantu gue ….” , erang gue ke Addin, dia malah tersenyum cuek.” Lo kan udah bisa ngatasin sendiri. Tuh kan , terbukti tanpa bantuan gue, cowok tadi udah berlalu dari lo. Hebat juga acting lo.”

“ Sial lo….lo kira gue gak deg degan setengah mati apa. Kalo ini sampai terbongkar gue musti menjalani hukuman 2 x lebih lama.”

“ Eh…..btw cowok tadi mirip banget ama Siva ya? Sama – sama gantengnya. Iya gak ?”, Tanya Addin nyuekin umpatan gue.

“ Hidihhhhh mirip si iya, tapi sifatnya 180 derajat beda banget. Yang satu kayak Brahmana yang satu kayak Siwa. Bertolak belakang banget.”

“ Lo naksir dia ya?”

“ Dia? Dia sapa? “

Ya lo maunya yang mana? Yang kayak Brahmana atau Siwa?”, goda Addin.

“ Sial lo! Baik yang kayak Brahmana ataupun Siwa, mereka berdua bukan tipe gue!”, kilah gue bersemu merah.

“ Udah deh jangan ngeles. Gue itu sudah jadi temen lo selama 16 tahun, jadi tahu banget sapa loe , Lex. Gue tahu dulu lo suka kan ma Siva, tapi karena lo di tolak ma dia, lo jadi benci banget ma dia. Yang dia nyebelin lah, jahil….eh sekarang muncul Siva dalam balutan Rama, mana mungkin lo gak berharap sama dia. Kayaknya dia juga care deh ama loh, gue liat dari sorot matanya…”

“ Sok tahu lo….lagipula lo jangan buka kartu gue dong ! Iya , Gue emang pernah demen ama si Siva , tapi itu dulu, saat gue kira dia lelaki baik dalam hidup gue. Dan dulu itu gak ada hubungannya ama Rama dan rasa seneng gue berteman dengan dia.”

“ Ye….ngeles. Kalo gak Rama , berarti di hati loh masih ada Siva dong? Ciye….cinta pertama nih, sulit di lupakan…hahahahahah!” ledek Addin, tawannya semakin meledak saat melihat ekspresi gue yang sudah kayak kepiting rebus.

“ Diam lo! Gue bilang dulu ya dulu……sekarang rasa cinta itu sudah jadi BENCI, yang gak pernah ilang dari otak gue, selama otak gue waras. Ok!”

Dengan membuat symbol bundar di tangannya Addin berjanji gak akan ngungkit masa lalu kelam itu lagi.

Sampai kapan pun Siva adalah kenangan terburuk dalam hidup gue, cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Paling dulu gue itu gila ya, karena bisa suka ma tuh cowok. Sampai jadi secret admirenya lagi. Ngirim surat cinta, ngasih coklat saat valentine, susah payah buatin switer, selalu setia nonton pertandingan basketnya, dan semua segale macem tentang Siva, yang gue yakin saat ini cuman jadi rosokan doang di kamar gue.

“ Din lo sadar gak sih, kalo tadi Rama, masih gak percaya kalo aku ini bukan Mina. Gimana kalo besok dia tanya-tanya? Gue mesti jawab apa?”

“ Ya lo bilang aja kalo lo di rumah dan lagi kerja bantu Mbok lo , gampang kan?”

“ Dodol lo! Mana mungkin dia percaya begitu aja. Rama pasti minta maen ke rumah gue, dan ….dan….gue mesti gimana?”

“ Kan, masih mungkin. Udah deh…gak usah hiperbola khawatirnya.” Saran Addin.” Sekarang kita sibuk, bukannya kita mestinya saat ini ada di lantai dua, mengawasi jalannya acara. Kesana yuk, ntar di tegur Siva loh.”

Mendengar nama itu gue langsung merinding.

_

Rama masih menyimpan segudang tanya prihal pertemuannya dengan gue.

“ Ada apa sih Bro, kok kayaknya lo penasaran banget ma tuh cewek. Dia tadi kan bilang kalo dia itu bukan Minah, mirip aja kali. Lagian mana mungkin Minah di sini…rasional dong, Bro…” ujar Ihsan, tak tahan dengan ekspresi Rama yang datar.

“ Entah lah , sepertinya gue agak aneh aja sama Minah. Lo pernah merasa gak, kalo Minah itu terlalu pinter dan cantik untuk ukuran seorang pembantu. Wawasannya juga luas, dia sepertinya…”

“ Udah deh jangan di bahas lagi, kita ke sini kan mau nonton pertandingan basket, bukannya memperdebatkan masalah Minah. Percaya deh ama gue. Kalo lo masih penasaran besok lo tanya aja ke Minah sendiri.”

Akhirnya Rama merasa kalo saran Ihsan ada benarnya.

“ Btw, mana ya Siva, kok gak nongol-nongol dari tadi.”

“ Dia kan ketua panitia , dia pasti sibuk. Kita tunggu di bangku penonton saja, sambil nunggu acarannya mulai. Daripada ntar gak kebagian bangku.”

“ Oke deh, bro.”

Saat Rama dan Ihsan akan beranjak dari tempat duduknya, ada sebuah tangan yang menepuk punggung Rama.

“ Kemana aja sih kalian, gue cari dari tadi”, kata lelaki itu.

“ Lo itu yang kemana. Kita dah nunggu lo dari tadi, katannya suruh nunggu di ruang metting, kok lo malah gak nonggol. Kita barusan mau beranjak ke lantai 2. takut kehabisan bangku yang strategis.” Cerocos Ihsan.

“ Sorry deh ,Bro. Tenang aja, masalah bangku, kalian gak perluh susah payah nyarinya. Gue udah nyiapan segalannya, kita nonton di bangku khusus panitia. Di sana viewnya asyik banget. Strategis buat analisis jalannya pertandingan, secara…gue udah tahu kalian ini kan maniak basket.”

“ Tanks ya Siv, ngomong-ngomong lo kenal cewek yang namanya Alexa gak?” , Tanya Rama dengan nada ingin tahu.

“ Lah…Ram, lo mbahas itu lagi”,protes Ihsan.

“Tadi dia juga pakai ID panitia, jadi gue fakir lo pasti kenal dia. Lo kan ketua acara ini?”, ujar Rama tak menggubris komentar Ihsan.

“ Kenal kenapa?”, jawab Siva tenang.

“ Gak…aku cuman ingin tahu saja tentang dia.”

“ Napa?”, Tanya Siva penasaran, agaknya dia tahu arah pembicaraan ini mau di kemanakan. “ Masalah Alexa, ntar aja deh di rumah kita bicarain. Sekarang waktunya kita nonton pertandingan basket, lima menit lagi mulai nih.”

“ Benar tuh kata Siva, ayo gue udah gak sabar rasannya.”

Rama hanya mengangguk setuju, kemudian mengikuti langkah Siva kea rah gedung lantai dua.

Seluruh panitia acara UINSD Cup, dari berbagai jurusan sudah berkumpul untuk menempati bangku mereka, yang memang di sediakan khusus oleh panitia dekorasi, agar panitia juga dapat pelayanan VIP.

Gue dan Addin menghempaskan pantat kami di kursi barisan depan, dengan membawa dua bungkus Pop Corn ukuran jumbo. Ditangan kiri Gue ada soft drink rasa stobery.

“ Eh kalian berdua itu gak salah tempat ya? Bawaanya kok kayak mau nonton bioskop” , celetuk Mario yang duduk tak jauh dari kami.

“ Sirik aja lo, kalo gak mampu beli ngomong ja. Ntar gue kasih bungkusnya deh.”, Jawab Addin cuek.

“ Eh, Din…kayaknya dari tadi kita di liatin kakak kelas deh. “

“ Yeh, Lex, biasa aja lagi. Itu namanya pandangan mengagumi.” Cerocos Addin narsis. Aku hanya geleng-geleng kepala liat tingkah sahabat gue satu ini.

“ Ye…Gr loch. Gue risih tahu gak. Apalagi ama Adam tuh, dia nafsu banget ngeliat gue. Kayak mau nelanjangin gue aja. Hih….untung kemaren pas dia nembak ,gue tolak.”

“ Iya juga sih” , ujar Addin seraya menoleh kearah sekitar. “ Untung lo tolak dia, secara walaupun ganteng, dia itu buaya darat. Hati-hati loh Lex, ma cowok model kayak si Adam.”

Addam adalah kakak kelas beda satu tingkat dengan gue. Sejak MOS gue udah di incer ama dia. Sampai kakak kelas yang saat itu tergolong fans clubnya, jadi sensi ma gue. Tapi untungnya setelah menjadi murid resmi gue jarang ketemu sama Adam, sampai akhirnya tiga bulan terakhir dia nembak gue. Ya, sontak gue tolak. Secara saat itu dalam hati gue masih ada Siva. Sekarang sih gak ada siapa-siapa, tapi walaupun begitu tetep aja gue bakal nolak dia. Habis belakangan gue tahu kalo dia itu playboy kelas kakap. Males aja gue jadi salah satu daftar cewek mantan Adam. Sorry aja gak minat la ye!.

“ Eh, itu yang di sampingnya Mario bukannya si Nensy, anak Teknik.”

“ Mana?”, gue menoleh kearah jari Addin yang sedang menunjuk seorang gadis mungil, berambut sebahu. Wajah dan perawakannya mirip sekali dengan Bunga Citra Lestari. Dia adalah primadona jurusan teknik, kabar terakhir yang gue denger tentang dia seh, masalah kedekatannya sama Siva. Walaupun beda dua tahun dari Siva, dia kabarnya tergila-gila banget ma Siva. Dasar Berondong Compleks, mang sudah gak ada apa cowok yang lebih tua dari dia, minimal sepantaran dialah yang bisa dia gaet. Ngapain cobak SKSD sama Siva, tapi untungnya Siva, sama sekali gak minat sama tuh cewek. Kasihan deh loch!

“Dia, saat ini kabarnya lagi merencanakan aksi step 2 loch buat ngedapetin Siva. Dasar cewek ganjen. Masak sama semua cowok dia mau sech. Mantan dia kan dimana-mana. Sama kayak Adam, mereka berdua cocok deh kalo jadi sejoli. Yang satu Buaya, yang satunya lubang buaya. “

“WKAKAKWKAKAWKAKAKAK” , tawa gue meledak sejadi jadinya, mendengar kutukan Addin ke Nensy.

“ Dah deh loh, jangan gosipin orang terus, ntar yang lo gosipin GR lage, kepalanya jadi gede banget, sampai memakan semua ruang yang ada di sentral ini. Repot kan acaranya.”

“ Hahahahhaha” gini giliran Addin yang tertawa meledak.” Iya ya…secara mereka sok artis gitu, pake suka bikin sensasi yang aneh-aneh.”

Gue mengangguk setuju.

“ Eh sudah di mulai neh…”, gue mencomot banyak-banyak Pop cron yang ada di dekapan gue. Dan memasukkannya langsung semuanya ke mulut tanpa seleksi, bersamaan dengan kedatangan orang itu.

“ Permisi,bangku ini kosong kan?”

Dear….rasannya ada kilat yang menyambar gue. Rama…Rama lagi. Gue menyikut lengan Addin, dia menjerit kesakitan.

“ Sakit taok,…” saat melihat sosok Rama, dia juga ikutan bengong, kali ini dobel bengong, karena di samping Rama berdiri Siva.Oh my God…gue dan Addin berpandangan kaget, kejadian yang tak kalah memalukan adalah saat pop corn yang belum sempat gue kunyah, jatuh ke tempatnya kembali, sangking kagetnya gua, melihat Siva dan Rama yang bersanding.

Rupannya yang kaget dengan pertemuan ini bukan cuman gue, Rama malahan bengong kaget ngeliat gue. Entah ngeliat gue yang bagian mana.

“Loh ada Addin ma Ratu judes toh di sini. Kebetulan banget, ada yang mau kenalan ma lo , Mak lampir” Gue tahu banget, siapa yang di panggil Mak lampir oleh Siva adalah gue. Sialan tuh gurita. Lima menit gue habisin buat menata hati dan ekspresi gue.

“Pantes udara jadi sesak. Sensitif paru-paru gue ma BERUK kayak lo. Huh…jijik gue ngeliat lo di sini. Kenapa lo gak duduk deket tuh ratu ganjen, penggemar lo.” Ujar gue sambil menunjuk kea rah Nensy.

“ Sorry ya, cewek macem dia bukan tipe gue.”

“ Oh…pantes dong, soalnya BERUK ya selerannya ama BERUK., bukannya ma Manusia ganjen kayak dia. Maklum deh gue.”

“ Huh…”, dengus Siva. Gue lupa kalo ada Rama di samping Siva. Mati loh, gara-gara Siva gue jadi bicara kasar di hadapan Rama, dia mikir apaan ya tentang gue ntar.

“ Tuh kan kamu liat ndiri Ram, dia itu Alexandria Ferdian Pert, yang sok banget. Kenapa sih kamu mau tahu soal dia, gak penting banget gitu. Kayak gak ada kerjaan lain aja.” Ujar Siva ke Rama. Dan ding…dong….kepala gue kayak kejatuhan sesuatu yang berat, yang membuat gue tersadar kalau Rama dan Siva, bagai pinang di belah dua. Ternyata bener mereka kembar, yah walau bnayak yang beda. Tapi semakin di perhatikan semakin mirip, apalagi saat mereka bersanding seperti saat ini. Tak kuasa aku menahan pekikan , karena jemari Addin sudah mencubit lengan gue sejadinya. Oh…God apa mereka kembar ya?, apa kembar?Ini adalah peristiwa paling mengerikan buat gue. Lebih menyeramkan dari tidur bareng sadako, lebih serem ketimbang tagihan kartu kredit, dan so pasti lebih serem dari taruhan gue….. malah. Kalau mereka kembar, berarti?! Selama ini gue jadi temen satu kelasnya si kembar, yang satu di Skull yang satu di kull.

Benar saja saat gue menoleh kearah Siva, tentu saja dengan tatapan marah dia mengerling nakal. Ini artinya selama ini semua sudah di rencanakan oleh Siva, kenapa dia memilih SMU Ferdiash, karena kembaran dia-Rama- , ada di situ, dan secara di sengaja ataupun tidak, nama gue dan gender gue adalah seorang pembantu.Ini semua sudah direncanakan dengan matang oleh Siva. Semuanya sudah di atur, secara gak langsung Rama sudah di jadikan kamera pengawas sekaligus tantangan besar buat gue. Sialan Siva, tega sekali dia. Apa sebenci itu dia sama gue. Sampai saudara kembarnya sendiri di jadikan kamera pengawas. Kasihan sekali Rama, saat ini pasti dia sangat bingung. Gue udah di jadikan obyek percobaan Siva, tak terkecuali Rama yang ikut andil tapi tidak tahu apa-apa sama sekali.

“ Sialan lo Siv, gak gue sangkah lo selicik ini. Gue nyesel kenal lo.” , ujar gue menghakimi, kemudian dengan mata berkaca gue beranjak meninggalkan mereka semua. Salah besar selama ini gue menganggap Siva. Di dasar lubuk hati gue, gue berteriak benci pada perasaan gue yang sampai sekarang masih merasa desir aneh saat dekat dengan Siva. Cinta pertama gue yang menyakitkan. Apa salah gue sebenernya salah gue, sehingga Siva begitu jauhnya ngerjain gue. Dia pasti tahu kalo Rama pasti akan menarik perhatian gue, dan membuat gue jatuh cinta. Bener kata Addin, gue terlalu angkuh, sekarang gue sudah makan umpan dari kail Siva, entah apa yang akan terjadi berikutnya.Nyesel gue pernah suka sama lo, nyesel gue kenal sama lo, nyesel gue karena air mata gue tercucur karena lo. Siva berengsek. Dia tahu kalo gue masih sayang sama dia, tapi kenapa dia malah mempermainkan gue. Padahal cinta gue tulus. Kak Sam….!

“Hiks…hiks…hiks. Sialan , kenapa gue mesti nagis sih. Gak pantes banget air mata gue keluar buat orang macem Siva!” hibur gue pada diri gue sendiri.” Hiks…hiks…tapi gue sedih, Siva kejam, SIVA JAHAT! Awas loh Siv, hiks…hiks…Kak Sam…..pulang lah Kak….hua…hua…” tanggis gue semakin menjadi.


T_T









Telepon rumah gue berdering ringan lebih dari 100 kali. Gue yang sudari tadi sibuk di dapur untuk membuat kue talem suji, kesukaan Kak Sam. Hari ini rencananya dia akan pulang. Kasihan tuh telefon gue cuekin, akhirnya gue mengalahkarena sepertinya penting banget tuh yang telfon, sapa tahu Kak Sam.

“ Bik ini tolong ntar gulanya di takar ya? Jangan terlalu banyak , cukup 500 grm, kak Sam gak suka kue yang terlalu manis. Ntar ini di tambah madu , “ Perintahku. Bik Surti mengaguk mengerti. Aku segera melangkahkan kakiku dengan jenjang terpenjang untuk meraih telefon yang sudah dari tadi menjerit minta di angkat.

“ Iya hallo!” , sapaku membuka percakapan.

“ Maaf ini dengan keluarga Ferdian Pert?”, suara seorang lelaki di sebrang sana, suaranya masih asing, jadi aku simpulkan dia memang orang asing.

“ Iya benar, ini dengan putri Pak Frans Ferdian”

“ Begini Mbak…”

“ Alexa”, jawabku, setelah menafsirkan nada suara lelaki asing yang kebingungan memanggil namaku.

“ Oh ya, Mbak Alexa. Kami dari kepolisian Cicendo, mengabarkan kalau saudara Mbak, yang bernama Samuel Ferdian Pert, saat ini sedang di rawat di rumah sakit internasional Cicendo, akibat kecelakaan .”

“ Apa?”, pekikku kaget. Dengan sigap aku memasang kuping, dan menata hati.

“ Terimakasih Pak, tapi bagaimana keadaan Kakak saya?’, tanyaku dengan air mata yang mulai pecah.

“ Maaf Mbak, saat ini beliau sedang berada di ruang operasi, dan kami hanya menyampaikan kabar ini. Masalah keadaan lebih baik Mbak datang ke Rumahsakit.”

“ Iya , Pak. Terimakasih atas informasinya.”

“ Sama-sama”

Klik, telepon terputus.

Kakiku lemas , seketika aku mengambang, pusing dan penat, tak tahu apa yang terjadi. Langit-langit seakah berputar, dan …... Bruk……

“ Non!”, Pekik, Iyem yang terdengar samar di telingaku semakin menghilang saja. Aku pingsan, terkapar lemas.

“ Lex…lex…lex…lo baik-baik aja?”, suara seorang wanita yang kemudian aku kenali sebagai sosok Adin.

“ Din…” , rintihku masih syok dengan kabar yang baru ku terima.

“ Iya , Lex, lo kenapa? Kata Bik Iyem, lo pingsan setelah mendengar telefon? Memangnya ada apa sih? “

Aku tak menjawab, mataku berkaca-kaca. Satu demi satu bulir air mata menetes dari mataku, membasahi pipiku.

Addin keherannan melihatku, wajahnya semakin cemas dan penuh tannya.

“ Kak Sam…Kak Sam…”, rintihku, dengan aungan semakin jadi.

“ Lex, tenangkan dirimu. Ada apa dengan Kak Sam? Ceritakan?”, Tanya Addin semakin cemas.

“ Dia kecelakaan dalam perjalanan pulang, kata…kata pak polisi tadi dia sekarang sedang sekarat!”

“ Apa?”

“ Lex, kamu tahu Kak Sam dirawat di mana?”

Aku mengangguk mengiyakan. “ Cicendo”, desisku kemudian.

‘ Kalau begitu biar aku saja yang ke sana, kamu di sini saja. Kamu masih pucat, aku takut ntar asmamu kumat!” , saran Adin.

“Aku menggeleng seraya mencengkram kaos Addin yang ingin beranjak pergi. “ Aku ikut, aku ingin melihat keadaan Kak Sam. Aku mau ikut, Din?”

“ Tidak. Kata dokter kamu harus istirahat!”, larang Addin semakin despresi.

“ APA HAK lo, ngelarang gue? EMANG LO PIKIR LO SIAPA. KAK SAM KAKAK GUE, TERSERAH GUE ..”

Plak…

Addin menamparku sebelum aku menyelesaikan perkatanku. Aku menatapnya tajam.

“ Maaf ,Lex”, ujar Addin sebelum aku membuka mulut.

“ Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang yang asing, yang selalu mencemaskan dirimu. Aku mohon berfikirlah dengan kepala dingin. Saat ini kamu masih labil , dan mana mungkin aku membiarkan dirimu menderita. Aku juga sakit Lex…sakit banget, kalo melihat lo sedih.”

Aku terdiam, mencoba mencerna kata-kata Addin.

“ Din…..maaf !” , ujarku selanjutnya. Seulas senyum menghias bibir Addin. Aku tahu mata itu berair saat aku bilang maaf. Oh…tuhan kamu memang mencintaiku, kamu memberikan teman terbaik dalam kehidupan sepiku.

‘ Ok! Gue berangkat ke rumah sakit, lo kabarin Papa dan Mama lo. Dn gue pesen ke lo, jangan mikir yang aneh-aneh. Lo harus positif thinking , doakan Kak Sam. Kalau kamu sudah sehat, baru ntar lo ke RS.”

Aku mengagguk lagi, sedu sedanku kini berganti tawa, melihat Addin yang bisanya cuek, saat ini seperti seorang Ibu yang mewanti-wanti anaknya.

“ Makasih ya ?”

“ Gitu Dong, Alexa yang gue kenal tuh periang, pemarah, jutek, cuek, judes, tegar, dan…”

“Auw” pekik Addin, karena aku menjiwit pwrutnya.

“ Sudah sana keburu pergi, atao gue yang pergi.”

“ Oke deh , Non.Gue berangkat ya!”

Aku menagguk. Dadaku sesak, ini pasti karena syok, asmaku kumat deh.

Kk semoga kau baik –baik saja. Jangan perrgi Kak. Aku sangat menyayangimu. Aku merindukanmu. Jantungku berdetak tak karuan, mendengar kabar buruk darimu. Aku menyayangimu, melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kau tiada.

Secepat kilat aku menyambar handphone yang terletak tak jauh dari jangkauanku. Menekan 11 no dan menunggu dengan hati berdetak.

“ Bisa bicara dengan Pak Ferdian Perth ?”

“ Ini dari siapa?”, suara wanita menjawab di seberang sana.

“ Apa ini Nissa ? Saya Alexa, putri Pak Ferdian.”

“ Iya! Oh Mbk Lexa. Maaf Mbk Pak Ferdiannya tidak bisa di ganggu ada metting penting. Baru selesai jam 1 siang.”, jelasnya dengan nada yang ramah.

Aku melirik jam, masih pukul 11.45 dan bearti aku harus menunggu lama, untuk memberi tahu prihal Kk Sam. Persetan dengan metting penting. Nyawa kakakku da pertaruhkan dalam hal ini. Dan pasti akan menjadi penyesalan terbesar bagi Mama dan Papa kalau terlambat mengetahui keadaan anak lelakinya.

“ Niss, aku mohon, ini penting. Sampaikan pada Papa, ini menyangkut soal nyawa. Kak Sam sedang tergeletakk di rumah sakit!!!”

“…”

“ Nis…nis…!!!”

Tut…tut….tut….

Sambungan terputus, aku melihat ke Hp-ku.

“SIAL”, ujarku membanting Hp. Papa dan Mamam benar-benar keterlaluan. Di saat nyawa anaknya berada id ujung tandunk, mereka malah sedang asyik rapat. Mereka fakir, lebih penting mana antara nyawa Kak Sam dengan rapat. Ya Allah jangan ambil kakak dari sisiku. Aku sangat menyayanginya. Biarkan aku yang menggantikannya.

“ Kak Sam…. Aku mohon bertahanlah!”, air mataku mengucur deras. Detik kemudian kesadaranku sudah sirna.

T_T


Suara berisik dari arah pintu kamar membangunkanku, rupanya aku pingsan lagi. Mama dengan air muka sedih menatapku. “ Sayang, kamu gak pa-pa?”, ujarnya khawatir. “ Ma…”, rintihku. Kepalaku masih sangat berat untuk diajak berfikir. Waktu aku tak sadarkan diri aku bermimpi kalau Kak Sam menaiki perahu putih di tengah danau berkabut. Aku yang ada di daratan memanggil-manggil namanya, dengan keras. Mencoba berteriak sekuat tenaga, sampai pita suaraku serasa putus, namun Kak Sam tetap melaju. Dengan santainya dia malah melambaikan tangannya, melukis seulas senyum di wajahnya. Aku menangis sejadi-jadinya, namun Kak Sam malah berpaling dan menghilang di balik kabut. Segerombolan orang memakai pakaian hitam, menatapku tak jelas. Aku meminta pertolongan dari mereka, untuk membawaku bersama Kakakku, karena di sini begitu dingin dan bau darah. Tetapi, mereka tak bergeming, malah menyeretku, ke sebuah pintu yang tak ku kenal.

“ Kak Sam…” tanyaku masih dengan suara yang lirih. Rasanya mimpiku adalah sebuah kenyataan. Pita suaraku seakan benar-benar putus.

Mama menatapku penuh makna, tetapi aku tidak menangkap apa maksud tatapannya. “…”, Mama masih membisu, kemudian matanya mulai berair. Kenapa ini. Kenapa dengan Kak Sam. Kenapa Mama menagis. Dengan mengumpulkan sisa tenaga dalam diriku, aku bangkit dari tidur. Menengadahkan wajah Mama. “ Ma, ada apa dengan Kak Sam ? Ma jangan buat Lexa penasaran?”, todongku ke Mama.

“ Sayang kamu harus sabar ya! Kakak kamu sudah tenang di sisi- Nya!”, ujar Mama. Perlu waktu lima menit untuk mencerna semua perkataan mama. Selama lima menit itu pula seakan mataku berkunang, dunia serasa panas, nafasku mulai terhenti, dan….” Tidak mungkin, dia tidakmungkin mati. Mama pasti bohong. Tuhan tak mungkin mengambilnya secepat ini. KAKAKU GAK MUNGKIN MATI…KAK SAM…KAK SAM…” teriakku, meninggalkan Mama terpaku di tempat tidur.

Di ruang tamu aku mendapati banyak orang memakai pakaian serba hitam bergerombol menatap sesuatu. Aku menyibak kerumunan itu, dan berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Hatiku sangat kalut, takut kalau apa yang dikatakan Mama benar. Tetapi ini tidak mungkin. Sesampai di tengah aku mendapati tubuh Kakakku terbujur kaku, ditutup oleh kain putih. Wajahnya masih menyisakan gurat senyum khasnya. Wajahnya pucat. Aku menundukkan diriku di sampingnya, menyentuh wajahnya yang sudah terlampau dingin. Orang-orang yang menatapku berkasak-kusuk tak jelas. Prihatin memandangku.

Papa menuju ke arahku. Merangkul pundakku. Berusaha melapangkan dadaku. Tidak mungkin ini nyata. Baru 2 jam lalu dia menelefonku untuk membuatkan dia talam suji kesukaanya, tetapi sekarang dia malah membisu, di depanku. Aku sungguh tak mengenal siapa dia.

“ Pa…Kak Sam…”, rintihku. Aku memeluk Papa , dan menangis sejadi-jadinya di pelukannya.

Sempat terfikir olehku kalau hari ini adalah April Mop, atau hari ulangtahunku. Tetapi aku salah, ini semua nyata, bukan keisengan seseorang. Entah sudah berapa kali aku tak sadarkan diri dalam 2 jam terakhir.

Pemakaman Kak Sam dihadiri oleh banyak temannya dari Australian Nasional Academic . Mereka semua adalah teman kuliah Kak Sam. Beberapa di antara mereka ada yang teman SMA Kak Sam. Semua keluarga Ferdian Pert berkumpul, termasuk Nenek dan Kakek yang lama menetap di Suriname, Amerika. Mereka sangat menyayangi Kak Sam, kepergian Kak Sam yang tiba-tiba membuat hatiku hancur.

Di sudut ruanggan aku menyendiri. Menangisi kepergian Kakakku. Acara pemakaman selesai puku 5 dini hari. Tamu semakin banyak berdatangan, dari kolega Papa, teman arisan Mama, mereka semua turut berduka atas kepergian Kakak. Dokter Hardian juga datang, dia adalah dokter keluarga kami yang merupakan sahabat karib Papa.

“ Mana Alexa?, tanyanya kepada Papa. Papa hanya menerawang jauh, “ Mungkin sekarang dia sedang menangisi kepergian Kakaknya. Salahku juga. Aku kurang memperhatikan kedua anakku. Aku terlalu sibuk dengan bisnis. Secara materil memang mereka terpenuhi, lebih malah. Tapi secara batin aku rasa aku adalah Ayah paling payah di dunia.” Keluh Papa. “ Alexa dan Sam sejak kecil saling mengisi kekosongan, sebagai Kakak , Sam sangat menyayangi adiknya, sama halnya dengan Alexa yang menyayangi Kakaknya. Saat terjadi hal seperti ini, aku yakin yang paling menderita adalah Alexa.” Wajah Papa kelihatan lelah.

“ Sudahlah Frans, aku tahu , semua yang kamu lakukan semuanya semata-mata untuk kebahagiaan anak-anakmu. Kamu sudah sadar sekarang kalau yang di butuhkan mereka bukan hanya kepuasan secara materil, tetapi juga batin. Dan aku rasa, kesadaranmu ini merupakan rasa cinta yang luarbiasa yang kau tujukan kepada kedua anakmu. Tak ada kata terlambat untuk bertindak !”, Ujar Paman Hardian.

“ Kau ke sini dengan siapa?”, Tanya Papa membuka topic baru.

“ Istri dan kedua anakku. Sekarang mereka sedang bicara dengan istrimu. Sepertinya dia juga sangat terpukul dengan kepergian Sam.”

“ Kami semua terpukul , Har !”

Siva menatap berkeliling menyapu ruangan. Sosok yang dia cari tidak dia temukan. Alexa, kemana anak itu.

“ Cari siapa Siv ?”, Tanya Rama, melihat saudaranya celingukan bingung.

“ Oh, ngak ! Teman !”

“ Siv, Ram, ini beri salam dulu ke Tante Elsa !”

Mendengar namanya dipanggil, Siva dan Rama, menuju kearah mamanya yang sedang merangkul wanita seusianya. Wajahnya kuyu sekali, mereka tahu itu adalah Nyonya Elsa Ferdian Perth.

“ Siva,, Rama, kalian sudah dewasa rupannya.” Ujarnya. Sisa air mata masih membekas di wajah cantiknya.Wjah Nyonya Elsa yang familiar bagi Siva dan Rama, bagi Rama wajah Minah, dan bagi Siva wajah Alexa.

“ Tan, saya ikut berduka cita atas kematian Kak Sam. “

“ Iya Tan, kami semua sangat menyayangkan hal ini. Tetapi kami sangat mengharapkan bahwa keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.” Tandas Rama.

“ Terimakasih…”

“ Rama” ujar Rama, tahu kalau Mama tidak dapat membedakan mana yang Siva dan Rama.

“ Oh, lalu kamu pasti Siva?”, tunjuknya kea rah Siva, yang dibalas anggukan sopan olehnya.

“ Kamu teman kuliah Alexa ,kan?” lagi-lagi Siva mengangguk. “ Kalo boleh saya, dimana Alexa, Tan ? Dari tadi saya tidak melihat dia?”

“ Dia ada di kamar. Dia yang paling kehilangan Sam. Dia masih shock dengan kenyataan ini.”

“…”, Siva terdiam, kemudian mohon pamit.

(_)

Siva berkeliling tak tentu. Rumah kediaman keluarga Ferdian Perth sangat luas. Dia tak tahu dimana kamar Alexa. Sampai dia menemukan sosok wanita yang ia kenal sedang terduduk lunglai di taman, dekat pohon beringin yang besar. Sedang menatap ayunan tua yang sudah usang.

“ Addin ?”, panggil Siva ragu.

Addin menoleh, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. “ Siv, ngapain lo di sini ?”, tanyanya dengan suara parau.

“ Lo kenapa, nangis sendirian di sini ?”, Tanya Siva, mengacuhkan pertanyaan Addin.

“ Gue ngerti sekarang kenapa Lexa, benci banget sama lo. Lo emang nyebelin!” , jawab Addin kesal dengan tingkah Siva.

“ Please deh Din, kita udah temenan sejak kita di TK, gue tahu banget lo. Lo bukan tipe cengeng. Ngapain lo nangis di sini?”, Tanya Siva lagi, masih tetap kukuh dengan sikapnya.

“ Bukan urusan lo!” kilah Addin, dia mencoba menghentikan isakan tangisnya, namun kehadiran Siva semakin mencuatkankesedihan di hatinya.

“ Lo merasa kehilangan Kak Sam, kan ?”, ujar Siva kalem. Wajahnya masih tetap tanpa ekspresi. “ Karena lo suka sama dia?”.

“ Lo JANGAN SOK TAHU DEH. TAHU APA LO SAMA PERASAAN. KALO EMANG LO JAGO BACA PERASAAN ORANG, KENAPA LO DULU GAK TAHU, KALO ALEXA CINTA MATI AMA LO!!!!!!!!!”, hardik Addin marah.

“ Maksud lo?”, Siva mulai kelabakan. “ Lexa, suka sama gue?”

“ CIH, GUE BINGUNG SAMA LO. LO ITU BEGO APA SOK TAHU.” Ejek Addin, matanya masih berkucur air mata.

“ Din gue minta lo jangan sembarangan bicara. Semua yang melihat tingkah Alexa ke gue, pasti tahu kalau dia tuh benci banget sama gue.”

“ GOBLOK. KENAPA SIH LAKI-LAKI ITU GAK PEKA BANGET. GAK LO, GAK KAK SAM, SAMA SAJA. DIA TUH SUKA SAMA LO. TAPI GOBLOKNYA LO, MALAH JADIAN SAMA ANITA, SAHABAT ALEXA!”

“….”

“ LO PUAS, MENYALAHKAN KEMATIAN ANITA KE ALEXA. ANITA YANG NGEREBUT LO DARI LEXA. ANITA TAHU BETUL SEMUA ITU.”

“…” Siva masih bungkam. Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

“ ALEXA SALAH BANGET JATUH HATI KE ELO. “ ujar Addin kemudian berlari meninggalkan Siva.

Siva masih mencoba mencerna semua yang dikatakan Addin. Apa maksud Addin, kalo Alexa …..

Y_Y

Alexa menatap pendar jingga yang dipantulkan oleh kotak perhiasan di sampingnya. Di dalamnya berisi kalung pemberian kakaknya saat dia berulangtahun ke-18. Itu adalah hadiah terakhir dari kakaknya.

“ Kak Sam, kau mengajarkan aku banyak hal dalam hidup ini. Kasih sayang, cinta, dan kebahagiaan. Tapi kau tak pernah mengajarkanku akan kepedihan dan kesedihan. Kau tak pernah mengisyaratkan kalau suatu hari nanti aku akan kehilangan dirimu. Terpisah jauh dari dirimu.”

Tok…tok…tok…tok….

Terdengar suara pintu diketuk.

“ Masuk”, ujar Alexa malas. Baginya, seharian ini ingin dihabiskan dengan kesendirian.

Addin masuk dengan menenteng nampan yang berisi makanan dan segelas susu. “ Kamu belum makan, kan?”, ujarnya. Matanya sembab. Alexa, baru pertama kali ini melehat wajah Addin yang sembab. Selama ini dia hanya tahu Addin yang jahil, ceriah, dan cuek. Addin turut merasakan kepedihan Alexa.

“ Din…sorry!”, ujar Alexa lirih.

“ Hem…”, gumam Addin heran. “ Soal apa?”, lanjutnya.

“ Gue hutang air mata ke elo.”

“ Hah? Maksudnya?”

“ Gue gak pernah ngeliat lo sedih sepanjang pertemanan kita, tapi karena kehilangan gue, elo jadi ikutan menitikan air mata. Gue sahabat yang buruk ya Din ?”

“ Lex…”, seru Addin, air matanya berlinang lagi. Kini mereka berdua saling berpelukan. Mengisi kekosongan masing-masing.

“ Lo jangan marah ya, kao gue bilang sesuatu!”

Alexa melepaskan rengkuhannya, dan menatap Addin. Kemudian mengangguk.

“ Janji!”, seulas senyum terukir di sela isakan tangis Addin. Alexa mengangguk lagi. Kali ini lebih mantap.

“ Gue, udah jadian sama Kak Sam, sejak dua tahun yang lalu.”

“ A…”

“ Tunggu! Dengarkan penjelasanku!”, potong Addin menanggapi kegusaran Alexa” Lo udah janji, kan?” lanjutnya.

Alexa terdiam, siap mendengarkan sahabatnya bertutur.

“ Gue sudah suka sama Kak Sam, sejak pertama kali bertemu, lo tahu kan tepatnya, 12 tahun lalu. Saat itu gue merasa minder. Gue gak tahu harus gimana. Gue berusaha dengan keras menjadi gadis yang ideal, dan suatu saat bisa ia banggakan kepada setiap orang yang di atemui, kalo aku ini kekasihnya. Seiring berjalannya waktu, gue dan Kak Sam semakin dekat, tentunya tanpa sepengetahuan lo!”,

“ Jadi…”, protes Alexa, yang dipotong lagi oleh Addin.

“ Maaf ya Lex!”, ujar Addin tulus.

“ Lo pasti sedih banget ya , Din ?” Tanya Alexa ragu.” Sama kayak gue? Atau…”

“ Gak ada yang lebih kehilangan Kak Sam di banding lo, walaupun gue rivalnya.”, Addin tersenyum, kemudian memeluk Alexa.

“ You are the best !”, kata Alexa. Mereka berdua menitikan air mata untuk mengenang kepergian orang yang mereka cintai, dengan cara masing-masing.

I_i

Siva menerawang kea rah balkon rumah dengan tatapan berkecamuk. Pikiranya kacau. Apa yang dikatakan Addin telah merubah segalanya. Pandanganya, pikirannya, dan kehidupannya. Hatinya galau.

“Lex…napa lo gak jujur akan perasaan lo ke gue. Lo selalu mencaci gue, man ague tahu lo punya perasaaan yang sama dengan gue.”

Lamunan Siva dibuyarkan oleh suara yang berasal dari pintu.

“ Masuk!”, Rama muncul dari balik pintu. Penampilannya rapi.

“ Lo mau ke mana? Rapi gitu!”, Tanya Siva heran.

“ Hem…mau ketemu temen Siv. Lo inget gak Mina, teman baru gue yang waktu itu gue certain ke elo. Yang mirip banget sama Alexa.”

“…” Siva terenya sesaat. Ngapain Lexa ngajak Rama ketemuan.

“ Dia ngajak gue ketemuan. Katanya ada yang mau di bicarain sama gue. Lo tahu gak, sampai sekarang gue itu masih yakin banget kalo Mina itu Alexa. Tapi…”

“ Tapia pa?”, Tanya Siva, melihat keraguan pada Rama.

“ Tapi lo tahu ndiri kan? Ngapai Alexa, kurang kerjaan banget nyamar jadi Mina. Imposible pokoknya. Secara dia kan dah mantep banget hidupnya. Aku fakir dia gak segila itu kan?” Jelas Rama. Dalam hati Siva merenung.

“ Ram…”

“ Apa?”

“ Gak jadi!”

“ Aneh! “, ujar Rama seraya pamit keluar. “ Oh ya..”, langkahnya terhenti. “ Tadi Papa nyuruh lo ke ruang kerjanya. Katanya mau ada yang diomongin.”

“ Makasih!”.

“ Yup. Gue cabut dulu ya!” pamitnya. Pintu ditutup.

Ram, dugaan lo selama ini benar. Mina yang lo kenal emang Lexa teman gue. Banyak hal selain kurang kerjaan yang menjadikan orang jadi diri orang lain. Termasuk sebuah prasangka. Sama seperti kebencian gue, yang salah gue tujukan ke Alexa.

F_f

Rama memarkirkan mobilnya dekat pelantara taman. Dia dan Mina berjanji bertemu di pusat grosir, Dago.